Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas upaya Pemkot Kupang mempercantik wajah kota dengan membangun air mancur di salah satu patung kebanggaan Kota Kupang itu.
Menurutnya, sudah saatnya Kota Kupang memiliki air mancur, sebab ini akan memberi daya tarik baru bagi warga Kota Kupang dan secara umum warga NTT.
“Air mancur di bundaran ini memiliki makna semangat baru di HUT ke-62 Provinsi NTT,” kata politisi Golkar ini.
Nae Soi mengatakan, dipercantiknya ketiga sosok patung itu memberi motivasi bagi warga NTT. Patung H.R. Koroh membawa pacul artinya bekerja, El Tari memegang anakan pohon artinya menanam pohon, serta Prof. W.Z. Johannes memegang obor menunjukkan bahwa orang NTT harus berintelektual secara akademik.
“Maka itu kita generasi muda tidak boleh minder. Anak muda NTT harus lebih pintar dari yang lain. Masyarakat harus bekerja. Mari kita bangkit, mari kita sejahtera dengan bekerja keras,” katanya.
Menurut Nae Soi, pengresmian air mancur ini adalah sejarah baru dalam pembangunan di NTT. Kondisi Kota Kupang mirip dengan DKI Jakarta di tahun 1971 ketika Gubernur Ali Sadikin meresmikan air mancur di Monumen Nasional padahal warga DKI dalam kesulitan air.
“Saya tahu masih banyak masyarakat Kota Kupang yang mengeluh. Masa masyarakat masih kekurangan air bikin lagi air mancur?” ujarnya.
Namun, kata Nae Soi, air mancur sangat penting dalam hal penataan kota untuk memberikan daya tarik wisata. Ini juga memberikan motivasi kepada pemerintah dalam hal peningkatan pelayanan publik.







