Ajang Kompetisi INOTEK, karena itu, mesti dilihat lebih jauh dari sekadar unjuk keterampilan. Tidak hanya kesempatan kumpul-kumpul dengan rekan-rekan mahasiswa dari kampus lain.
Sebaliknya, ajang ini adalah proklamasi tentang pendidikan vokasi di daerah ini. Kompetisi INOTEK menjadi pengejawantahan ilmu praktis yang diserap di ruang kuliah ke tengah lahan pertanian, di padang pengembalaan dan di tengah gemuruh ombak lautan.

Tepat kata Ketua Panitia Kompetisi INOTEK 2 Bidang Pertanian Regional NTT, Dr. Melkianus D. S. Randu, S.Pt, M.Si. “Izinkan saya menyampaikan bahwa INOTEK bukan sekadar sebuah kompetisi semata. Lebih dari itu, INOTEK adalah sebuah gerakan kolektif untuk membangun masa depan pertanian dan agrokompleks Indonesia yang dimulai dari kalian mahasiswa/i yang berani berpikir cerdas, bekerja keras, serta berjiwa besar,” kata Dedy, sapaan Melkianus dalam sambutannya pada acara penutupan ajang ini.
Berpikir cerdas, bekerja keras, berjiwa besar. Ini tuah yang digelorakan Dedy ke relung hati dan kedalaman pikiran. Tidak hanya untuk para mahasiswa. Lebih jauh dari itu, juga untuk para pemangku kepentingan di daerah ini. Targetnya tegas: agar daerah ini, agar NTT ini tidak begini dan begitu saja.
Tampilan 17 mata lomba di ajang ini membuat siapa saja yang menyaksikannya berdecak kagum. Kagum melihat kelincahan para peserta menampilkan keterampilan mereka dalam proses filet ikan cakalang. Bagaimana tangan mereka dengan lincah memisahkan tulang ikan, mengambil isi perut ikan, kemudian memisahkan kulit tipis cakalang dan kemudian mengemasnya dalam plastik. Dengan kemasan ini ikan cakalang sejajar dengan salmon di supermarket.







