Atau juga di ruangan tempat lomba lain kita menyaksikan bagaimana ketepatan mata melihat diiringi kecepatan tangan memisahkan biji-biji kopi menurut kualitasnya dalam proses sortasi kopi. Urusan memilih biji kopi ternyata ada juga ilmu dan tekniknya. Anda peminat bakso? Anda perlu merasakan bakso ikan buah tangan para mahasiswa Politani. Rasanya oke, dan… sehaaattt..
Kopi dan ikan hanya contoh dua kekayaan milik kita yang banyak tersedia di NTT. Selama ini para petani dan nelayan kita hanya sebatas menjual secara gelondongan. Kopi ditimbang dan dijual. Ikan ditangkap dan dijual. Pengolahan pasca panen? Itu yang belum banyak sentuhan.
Nah, sentuhan teknologi ala mahasiswa Politani membuatnya naik kelas dan juga naik harga. Ikan cakalang dengan berat sekitar 2,5 kg/ekor seharga Rp 50 ribu setelah diolah menjadi bakso ikan keuntungan yang didapat sudah berlipat-lipat.
“Setelah kalian tahu olah ikan jadi bakso, apa yang ada dalam pikiran kalian?” tantang Profesor Dr. Bernadete Barek Koten, SPt, MP kepada sejumlah peserta lomba usai menyaksikan aksi lomba membuat bakso ikan itu.
Yang ditanya hanya tersenyum. “Ayo, bikin bakso ikan. Nanti setelah tamat dari sini, bikin bakso ikan ya… Ini peluang usaha yang bagus,” kata Profesor Bernadete Koten.

Dua hari menyaksikan unjuk keterampilan berbasis ilmu para mahasiswa di kampus Politani Kupang itu, teringat spirit yang digelorakan Gubernur-Wakil Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena-Johni Asadoma : “Ayo Bangun NTT.”







