Menurut dia, menjadi menarik karena Jokowi mengatakan itu di acara besar HUT Golkar. “Kalau ini dibicarakan Jokowi di PDI Perjuangan, saya kira itu suatu hal yang biasa saja. Tetapi karena ini di Golkar berarti secara politik kita melihat dinamika setelah Nasdem mengusung Anies Baswedan ini kan sudah terbangun semacam rivalitas politik,” katanya.
Di satu sisi, kata Atang, orang melihat NasDem yang hari ini masih bagian dari kekuasaan terus dia mengambil sikap politik yang kemudian dalam tataran faksi politik sebenarnya agak berani. “Tapi faktanya sudah terjadi, berarti satu kekuatan sudah berdiri dan akan muncul kekuatan lain yang saling berhadapan. Sehingga ini ada semacam rivalitas politik yang sudah mulai terbangun antara kekuatan Nasdem dalam tanda petik, bisa juga dengan kekuatan politik PDIP yang sedang dibangun itu,” jelasnya.
Atang menyebut, lantaran kondisi rivalitas itu maka Jokowi memberi harapan besar kepada Golkar. “Salah satunya adalah dia tidak gegabah dan tidak sembrono dalam menentukan capres,” katanya.
Ia mengatakan, mestinya dalam Pilpres 2024 nanti ada tiga paket calon. “Kalau kita biarkan dua paket saja maka rivalitasnya akan sangat terbelah, itu isyarat yang pertama. Isyarat yang kedua, setidaknya Golkar dan KIB itu tidak kemudian mengambil posisi untuk mengikuti politik mainstream. Artinya dia mesti punya patokan, sepanjang dia punya figur dan punya modal politik. Kan dia tidak mungkin melebur pada koalisi-koalisi yang sudah terbentuk,” ujarnya.
Atang menegaskan Golkar mesti berdiri dengan kekuatan figur sendiri karena mempunyai modal politik. Golkar sebagai partai besar yang kalau dikalkulasikan sebenarnya di atas 20% lebih. “Ini yang mesti dikelola sebagai sebuah kekuatan politik. Tidak harus merapat ke koalisi-koalisi lain kemudian KIB menjadi hilang,” ujarnya.







