Jokowi Inginkan KIB dan Airlangga Jadi Politik Jalan Tengah

ahmad atang2
Dr. Ahmad Atang

Menurut Atang, kalau orientasi pembangunan ekonomi ke depan itu menjadi lebih kuat, maka memang ekonom lebih penting untuk memimpin bangsa ini. Dan, ekonom sekaligus politisi sehingga dia bisa menjembatani kepentingan politik dan ekonomi. Sebab, kalau hanya sekadar ekonom teknokrat itu artinya dia hanya bisa melihat ekonomi sebagai sebuah model pembangunan.

“Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Pak Jokowi bahwa warning tidak sembrono itu mungkin istilah menurut saya cenderung menekan tapi juga tidak lama-lama karena memang poitik ini kan soal momentum. Di mana kita berkejaran dengan waktu, maka setidaknya figur yang kemudian nanti menjadi nominasi oleh KIB itu harus dimunculkan lebih awal,” katanya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Pasalnya, menurut dia, figur yang didominasi oleh KIB itu bisa memiliki waktu yang panjang untuk membangun relasi politik, menciptakan infrastruktur politik ke depan.

Dengan munculnya figur yang ditentukan lebih awal, paling tidak publik kemudian mempunyai semacam referensi politik dari berbagai figur yang sudah pasti maju.

“Bayangkan NasDem yang hanya satu partai, dari sisi syarat belum terpenuhi, tapi dia sudah berani mendeklarasikan Anies Baswedan. Sementara  Golkar dengan KIB dari sisi persyaratan itu sudah terpenuhi, tapi kenapa dia masih mengulur-ulur waktu? Jangan sampai terjadi kejenuhan publik. Jadi saya kira dia mesti menjaga psikologi publik dengan segera menentukan dan supaya publik jangan jenuh menunggu kapan KIB menentukan pilihan politiknya,” sebut Ahmad.

Atang mengatakan, Golkar adalah partai dengan posisi 3 besar. “Jadi kalau hari ini bicara siapa yang layak, ukuran layak pertama adalah Airlangga Hartarto. Karena  dia mempunyai modal politik, dia ketua partai dan Golkar masuk 3 besar di level penerimaan publik,” ujar Atang. (*/den)

Pos terkait