Ia menyoroti makna nyanyian Mazmur yang dinyanyikan oleh berbagai kalangan usia: “Ketika anak-anak menyanyikan Mazmur, kita melihat benih iman tumbuh dalam ketulusan; ketika remaja dan OMK menyanyikannya, kita menyaksikan nyala semangat dan pencarian makna; dan ketika orang dewasa melantunkannya, kita mendengar gema pengalaman dan kebijaksanaan hidup.”
Dalam konteks pembangunan daerah, PESPARANI menurutnya adalah bukti nyata bahwa Kabupaten TTU tidak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan, tetapi juga membangun jiwa masyarakat dan nilai-nilai luhur warisan spiritual umat.
“Di tengah dunia yang makin bising oleh konflik dan informasi palsu, mari kita jadikan PESPARANI sebagai suara pengharapan, sebagai saksi bahwa harmoni itu ada di dalam iman yang dinyanyikan,” ajak Bupati.
Ia mengajak seluruh masyarakat TTU untuk membawa semangat PESPARANI ke dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat kasih, menjaga lingkungan, dan memperjuangkan keadilan sosial.
“Jadikan panggung ini sebagai altar pelayanan melalui talenta yang telah Tuhan percayakan. Menang atau kalah bukanlah tujuan utama. Yang utama adalah memuliakan Tuhan dan menjadi saksi kasih di tengah dunia,” pungkasnya.
Bupati juga menutup sambutan dengan doa dan harapan agar dari Tanah Salu Miomafo, Kuluan Maubes, naiklah nada-nada pujian yang menyentuh hati dan menggetarkan jiwa, memperkuat hubungan antara manusia, sesama, dan Tuhan.(Siu)







