“Rencana besok saya bersama dua kepala desa, sekretaris desa dan perwakilan BPD akan berkoordinasi langsung dengan PDAM untuk membahas kebutuhan ini,” jelasnya.
Selain air bersih, kondisi infrastruktur jalan juga menjadi sorotan utama warga. Salah satu ruas yang dikeluhkan adalah jalan dari Cabang Baas menuju Oelbonak yang saat ini rusak berat.
Menurut Agustinus, ruas jalan tersebut awalnya dibangun untuk kepentingan masyarakat Desa Baas, namun kini telah menjadi akses strategis yang menghubungkan tiga kecamatan, yakni Bikomi Tengah, Bikomi Utara, dan Bikomi Nilulat.
“Ruas jalan ini bahkan belum memiliki nama. Karena itu masyarakat mengusulkan agar diberi nama resmi sehingga bisa diperjuangkan melalui APBD, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan terkait ruas jalan dari Cabang Haumeni menuju Buk Sono. Jalan tersebut diketahui pernah diaspal, namun kini kembali rusak dan menyulitkan mobilitas masyarakat. Padahal, jalur tersebut juga menjadi akses penting menuju pusat pelayanan umum, Paroki Kristus Raja Haumeni.
Dalam kesempatan tersebut, Agustinus juga memaparkan sejumlah ruas jalan yang menjadi prioritas perjuangan di wilayah Kecamatan Bikomi Utara, yakni ruas Cabang Baas–Oelbonak, Cabang Haumeni–Buk Sono, serta Faenake–Fatunaenu.
Namun demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran akibat efisiensi dana transfer dari pemerintah pusat menjadi tantangan dalam merealisasikan program tersebut tahun ini.
“Memang ada janji dari pemerintah daerah, baik Bupati maupun saya selaku Wakil Ketua II DPRD. Namun karena efisiensi anggaran, tahun ini belum bisa dikerjakan. Kita upayakan di tahun anggaran berikutnya,” tegasnya.







