Upaya Penanganan
Menurut Robertus Tjeunfin, Dinas Kesehatan TTU telah melakukan sejumlah langkah untuk menekan angka kesakitan akibat diare. Di antaranya adalah memastikan ketersediaan Oralit dan cairan rehidrasi, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta meningkatkan pengawasan kualitas air minum.
“Kami juga menginstruksikan setiap puskesmas agar aktif melakukan sosialisasi ke desa-desa, memberikan penyuluhan tentang cara mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengolah makanan dan minuman dengan higienis. Semua ini bertujuan untuk mencegah diare sejak dari rumah tangga,” jelasnya.
Perhatian Khusus untuk Anak-Anak
Kasus kematian akibat diare yang menimpa bayi dan balita menunjukkan bahwa kelompok usia ini masih menjadi yang paling rentan. Oleh karena itu, Dinkes TTU meminta para orang tua lebih waspada terhadap gejala awal diare, seperti buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi cair, disertai muntah, demam, atau tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering dan mata cekung.
“Jangan menunggu sampai kondisi anak memburuk. Segera bawa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien,” tambah Robertus.
Harapan ke Depan
Dengan tingginya angka kasus diare ini, Pemerintah Kabupaten TTU berkomitmen untuk terus memperkuat pelayanan kesehatan di lini terdepan. Selain memperhatikan aspek pengobatan, upaya pencegahan juga akan diperkuat melalui program edukasi masyarakat, penyediaan sarana air bersih, serta kerja sama lintas sektor untuk memperbaiki kondisi lingkungan.







