Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Cagar Biosfer Komodo, Ismail Surdi menjelaskan, Cagar Biosfer Komodo merupakan cagar biosfer tertua di Indonesia. Namun Cagar Biosfer Komodo menjadi salah satu yang belum memiliki logo atau branding dibanding 11 cagar biosfer yang ada di Indonesia.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BOPLBF yang telah menginisiasi beberapa diskusi untuk terbentuknya logo ini dengan berbagai lembaga dan narasumber. Sehingga pada tanggal 25 Agustus 2020 kita mengambil keputusan final mengenai Cagar Biosfer Komodo. Ke depannya kami harapkan logo ini dapat hadir di setiap materi komunikasi Cagar Biosfer Komodo untuk membangun citra yang konsisten,” ujar Surdi.
Surdi juga menjelaskan, bentuk dasar logo tersebut merupakan interpretasi dari semangat Cagar Biosfer Komodo dalam menghadirkan keseimbangan antara manusia dengan alam. Antara lain melalui cara hidup yang berkelanjutan.
Komposisi berbentuk lingkaran merupakan lambang dari bumi, sebagai keutuhan dan siklus, yang mengikuti seluruh elemen Cagar Biosfer Komodo.
“Diharapkan logo ini bisa lebih mudah untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian kepada Cagar Biosfer Komodo dan menjadikannya top of mind baik wisatawan nusantara atau wisatawan mancanegara,” katanya.
Sementara itu, Kepala Taman Nasional Komodo, Lukita Awang, menjelaskan dengan rapat dan langkah bertahap dalam membangun branding cagar biosfer akhirnya menghasilkan logo cagar biosfer ini.
“Semoga dengan logo ini membuat kita merasa memiliki. Dan saya mengajak mari kita bersatu bersama-sama menjaga pariwisata Labuan Bajo, khususnya Taman Nasional Komodo bersama keragamannya dengan semangat yang telah tergambar di logo cagar biosfer ini,” ujarnya.







