Sebagaimana disaksikan media ini di lokasi, puluhan warga dan anak-anak melintas di areal persawahan menuju Kali Wae Mese membawa beberapa jerigen dan ember sebagai wadah air.
Berkisar 500 meter mereka harus melintas di areal pematang sawah milik warga untuk mencapai lokasi.
Warga yang mayoritas petani dan buruh tersebut berharap ada perhatian pemerintah terkait kondisi mereka saat ini.
“Kami berharap pemerintah perhatikan kondisi kami di sini agar kami mengonsumsi air minum yang layak,” kata Jafar diamini warga lainnya.
Untuk menuruti saran dokter, kata Jafar, dirinya dan beberapa teman yang terkena sakit batu ginjal terpaksa membeli air galon, jika sewaktu-waktu mobil pick up penjual air melintas di kampungnya.
“Itu pun jika penjual galon sempat melintas ke kampung kami, akan tetapi faktanya jarang mereka ke sini. Karena mereka pun enggan melintas di sini dengan kondisi jalan menuju kampung yang rusak parah,” sesalnya.
Kepala Desa Golo Bilas, Paulus Nurung, membenarkan kondisi itu. Sumber air dari Kali Wae Mese, kata Nurung, tidak layak konsumsi karena kotor.
Warga setempat, kata Nurung, sudah mengonsumsi air tersebut sejak direlokasi dari kampung sebelumnya di Lengkong Pau, tahun 1969 silam.
“Namun kondisi ini sudah diusulkan melalui Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbangdes),” ujar Paulus.
Diakuinya, saat ini Perumda Wae Mbeliling merespon baik atas usulan tersebut. Rencananya tahun 2022 mendatang warga akan mendapatkan layanan air bersih. (obe)







