Melki juga menghimbau Pemda Flotim mengurus proses izin dan nomor rumah sakit di Kemenkes. Setelah itu secara perlahan mulai melengkapi alat kesehatan dan tenaga medis melalui dukungan APBD II dan juga berkoordinasi dengan Provinsi NTT dan Kemenkes melalui DSK Kesehatan.
“Juga bisa minta hibah dari pihak swasta atau organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesehatan untuk membantu meskipun terbatas tapi memang pelayanannya harus jalan,” imbuhnya.
Melki juga menginformasikan, sebenarnya Flores Timur mendapat alokasi rumah sakit pratama untuk tahun 2023. Namun tidak jadi karena persetujuan dari Kemenkes dan juga beberapa persyaratan tertentu tidak disanggupi oleh Pemda Flotim.
“Nagi juga dapat alokasi rumah sakit pratama untuk tahun depan di Solor. Sayangnya, tidak jadi karena persetujuan Kemenkes dengan persyaratan tertentu tidak disanggupi oleh Pemda Flotim sehingga tidak bisa terealisasi,” katanya.
RS Adonara ini sudah dibangun sejak tahun 2012 dan baru rampung 2019. RS ini menghabiskan dana senilai Rp 36,8 miliar, yang bersumber dari APBN dan APBD. Kehadiran rumah sakit tersebut menjadi tumpuan harapan bagi 134.000 jiwa di Adonara. (np)







