Pemerkosaan Anak di Karot Ruteng, Ini Kata Pemerhati Sosial

Manggarai YMP
  1. Kasus kekerasan pada anak/kasus bunuh diri pada anak, memperlihatkan suasana psikologis masyarakat yang sedang ‘bopeng’, dan butuh kerja ekstra mengurai soal ini. “Studi kami memperlihatkan ada ceruk yang sangat dalamĀ  yang mengambarkan lemahnya pengetahuan pola pengasuhan pada masyarakat kita. Klusternya ada di mana-mana. Rumah, sekolah, kantor, lingkungan bermain,” beber Albina.
  1. Pendekatan terhadap maslah anak tidak akan selesai dengan selebrasi perayaan yang sifatnya leap service, memberi hadiah, atau apapun tanpa mengetahui konstruksi psikologi dan sosialnya secara rinci.
  2. Pola penanganan kasus perempuan dan anak perspektifnya pada pelaku. Memenjarakan pelaku seolah-olah masalah selesai, lupa kalau ada korban yang lebih penting untuk segera ditangani dan diselamatkan hidupnya. Denda dan penjara mungkin akan memuaskan orang tua dan keluarga tapi tidak akan menyembuhkan korban.
  3. Masalah kita ada di rumah. Jadi yang harus ditreatmen adalah rumahnya. Rumah itu pabrik, dan anak itu hasil pabrikannya. Program seringkali kali didesain langsung ke anak, dan melupakan sumbernya. “Ingat anak adalah akibat. Sumber dan penyebabnya di luar anak. Maka hati-hati merumuskan kebijakan terkait isu anak kalau prespektifnya masih soal akibat bukan menyelesaikan penyebabnya,” tegasnya. (obe)

Pos terkait