Profesor Redempta Wea kepada semua yang hadir memperkenalkan bagaimana memanfaatkan batang pisang dan ampas tahu yang difermentasi untuk menjadi pakan ternak.
“Hari ini kami dari Politani memperkenalkan teknologi bagaimana batang pisang dan ampas tahu kita olah menjadi pakan ternak melalui fermentasi. Ini hasil penelitian para mahasiswa Politani. Nanti mereka akan menunjukkan bagaimana caranya kita memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita ini menjadi pakan ternak seperti babi,” jelas Profesor Redempta.
Sementara Profesor Bernadete Koten lebih banyak membuka pikiran para ibu peternak itu tentang dunia peternakan. Perlakuan dan jenis pakan ternak, kata Profesor Bernadete, sangat menentukan tumbuh kembang ternak. “Kalau pakannya kurang protein, babi bisa mengalami stunting, dia tidak besar,” kata Profesor Bernadete.
Suasana bertambah ramai ketika Dr. drh. I Gusti Komang Oka Wirawan, MP berbicara. Pria asal Bali ini secara kocak menjelaskan banyak hal terkait ternak, khususnya babi. Dari kandang babi yang sehat hingga musim kawin babi. “Kalau birahi pertama langsung dikasih kawin, peluang anak babi mati tinggi. Sebaiknya kasih kawin ketika birahi ketiga,” terang Oka.
Oka juga menjelaskan anak babi yang baru lahir mesti dipotong ekor dan giginya. Juga, puting susu induk babi yang hendak melahirkan harus dibersihkan dengan air hangat. “Kenapa? Karena putingnya kadang tertutup dan kotor. Kalau tertutup air susu susah keluar. Kalau kotor anak babi bisa kena virus dan sakit,” terangnya.







