Di wilayah Timor, lanjut Zeth, hujan hanya berlangsung tiga bulan. Oleh karena itu, jika menanam anakan lalu perawatan kurang maka keberhasilannya pasti di bawah 30 persen.
“Saya lihat ada beberapa tanaman di kota ini keberhasilan hampir 100 persen. Memang ada beberapa yang mati dan itu pasti diganti, tapi secara keseluruhan yang berhasil atau hidup itu sudah di atas 60 persen. Itu sudah hebat,” jelas Zeth.
Ia mengatakan, tanaman-tanaman di Kota Kupang yang ditanam bukan pada musim hujan. Apalagi tahun lalu Kota Kupang mengalami el nino dan hujan kurang dari dua bulan. Rata-rata hari hujan di Kupang tidak lebih dari 40 hari.
“Padahal kita mengalami gangguan musim. Biasanya kalau ada gangguan musim di daerah kering itu tingkat pertumbuhan malah 0%, apalagi ada kebakaran,” kata Zeth.
Ia juga menyentil soal banyaknya proyek penggalian yang sedang berlangsung di Kota Kupang. Ini menjadi penyebab adanya gangguan terhadap tanaman. “Jadi bisa terjadi ada akar yang terputus di dalam saat dia sedang tumbuh,” ujarnya.
Namun, menurut dia, ada beberapa tanaman dengan daya tumbuh yang cukup bagus seperti tambaring belanda di jalan depan Inaboi, hampir 100 persen tumbuh. Tanaman ini punya daya tumbuh yang bagus.
“Pemilihan tanaman sudah cukup hebat, apalagi flamboyan ini menggambarkan tingkat kehebatan Pak Walikota untuk menciptakan kota yang indah. Karena Kota Kupang memang terkenal denga Kota Flamboyan,” kata Zeth.
Ia juga menyarankan agar pemerintah memperbanyak hutan kota. Ia mengakui program ini sulit, namun untuk menjaga lingkungan tetap nyaman maka harus dilaksanakan.







