“Program ini harus jalan karena tingkat kelembaban kita makin hari makin menurun. Tetap menanam dengan tanaman hutan, tapi tingkat kerapatannya lebih diperkecil lagi,” kata Zeth.
Ia meminta Pemkot Kupang menaikkan anggaran dan memperkuat jajaran yang bekerja dan menambah sosialisasi kepada semua orang. “Walikota di mana-mana bicara, di gereja, media, walikota ajak untuk menanam dan ini konsep yang dibangun kembali pak walikota mengingat filsafat yang dibangun Gubernur El Tari yaitu tanam, sekali lagi tanam,” jelas Zet.
Terkait anggaran, Zeth mengakui anggaran di lahan kering memang mahal. Pasalnya, perawatannya sangat berat. “Harus ada anggaran untuk perawatan. Dan perawatan di lahan kering tidak main-main. Bisa sampai tiga tahun. Tidak satu-dua tahun. Tanaman yang hebat di lahan kering itu tidak mudah. Menggali lubang di lahan kering yang berbatu beda dengan tanah yang lembut. Anggaran tidak sama,” ujarnya.
Salah satu alasan, menurut dia, top soil Kota Kupang hanya 2-5 centimeter, selebihnya bebatuan. Oleh karena itu, penggalian saja butuh anggaran besar.
“Harus dibantu alat berat. Bisa saja biaya per pohon ini 10 juta rupiah baru jadi. Di daerah lain mungkin hanya 100 ribu rupiah. Kadang-kadang orang bilang anggaran ini sangat besar. Oh tidak, besar di mana dulu,” beber Zeth.
“Saya bangga karena pak walikota mendorong tanpa bosan-bosan menyampaikan tentang tanam, sekali lagi tanam dengan berbagai persoalan yang ada. Siapa yang berani membongkar batu karang ini untuk tanam pohon? Kalau tanam di daerah subur semua orang bisa. Tapi kalau dengan membongkar batu karang memang butuh keberanian,” pungkas Zeth. (*/den)







