KMK Ledalero Hadirkan Ansy Lema dan Vicky Djalong dalam Diskusi Virtual

Sikka ledalero1

Menurutnya,  di tengah pandemi terjadi suatu penguasaan ruang publik oleh narasi tunggal tentang virus ini. Akibatnya, masyarakat hanya mengenal isu tersebut, sedangkan isu lainnya luput dari perhatian publik.

“Namun, sebagai demos (rakyat), kita perlu mengangkat counter narrative atau counter discourse untuk “melawan” grand narrative dalam hal monopoli kebijakan dan produksi pengetahuan yang dilakukan pihak-pihak tertentu di tengah pandemi, baik itu yang berkaitan dengan proses pembuatan dan penyediaan vaksin, serta hal-hal lainnya,” kata alumnus program magister di University of Oslo ini.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam sesi dialog, moderator hanya memberikan kesempatan kepada empat peserta untuk mengajukan pertanyaan. Ini dikarenakan terbatasnya waktu diskusi. Wahyu Urbanus, mahasiswa pascasarjana program Teologi Kontekstual STFK Ledalero, bertanya tentang model strategi konfrontasi yang tepat untuk dilakukan dalam melawan dominasi dan hegemoni dunia kehidupan yang dilakukan oleh para penguasa teknologi siber, seperti Bill Gates.

“Konfrontasi dimulai dari bidang kita masing-masing, baik sebagai akademisi, politisi, mahasiswa, biarawan-biarawati, maupun sebagai masyarakat biasa,” jawab Vicky.

Pertanyaan dengan sudut pandang yang berbeda juga diajukan oleh Elton Wada dan Agus Masrin. Elton  memberi komentar tentang kebijakan ‘Belajar dari Rumah’ yang dinilai tidak efektif dari segi sarana dan prasarana.

Sementara itu, Agus Masrin mengangkat persoalan kemiskinan di NTT. Berbeda dari Ansy Lema yang menilai keterbatasan pangan sebagai penyebab kemiskinan, Masrin justru melihat SDM sebagai penyebabnya.

Pos terkait