Mengenang  Yustin Genohon:  “Sabda Tuhan Sabda Hidup….”

Kons beo5

Oleh P. Kons Beo, SVD

 “Misionaris-misionaris adalah duta-duta CINTA ILAHI. Mereka harus memperlihatkan karya-karya agung Allah dan harus mendirikan Kerajaan Cinta Ilahi……” (St Arnoldus Janssen – Pendiri SVD, SSpS dan SSpS AP)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Saat tulisan simpel ini dirajik (21 Juni 2023), Pater Yustin Genohon, SVD almarhum mungkin lagi didoakan dalam perayaan ekaristi pemakamannya di Kapela Induk Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Berita kematiannya menyentak sekian banyak orang yang mengenalnya. Seorang pencipta lagu Gereja yang produktif telah pergi.

Kemarin pagi, 20 Juni 2023, setelah misa pagi, sebuah berita duka terbaca, “Selamat pagi pater. Pater Yustinus Genohon meninggal barusan.” Tersentak hati memang membaca info itu. Wah, seorang teman angkatan wafat, setelah ia sekian waktu menderita sakit. Pantasan di dua hari terakhir, Yustin tidak kontak per WA. Biasanya, setiap hari beliau ada kontak per WA: “Terima kasih kawan” tulisan biasanya setelah ‘percakapan alkitabiah harian.’

Yustin benar-benar telah pergi. Larut dalam sedih memang. Saya tersentuh dengan semua ungkapan isi hati teman-teman seangkatan Novis Ledalero 1986-Tahbisan 1994. “Kami semua larut dalam duka yang mendalam.” Ada sekian banyak teman sudah punya rencana. Setelah reunian angkatan di bulan Juli 2023 ini, ada yang hendak mengunjunginya di Wisma Simeon-Ledalero.

Yustin Genohon Tukan telah jadi bagian dalam kebersamaan angkatan Novis SVD Ledalero tahun 1986 hingga kami mulai berpisah satu demi satu di tahun 1995 setelah menerima salib misi dalam SVD.

Kisah tentang persahabatan sebagai teman kelas (angkatan) adalah narasi hidup tentang keunikan setiap anggotanya. Berawal datang dengan berbagai ragam latar yang variatif, para formator secara luar biasa merancang proses agar ‘kami bertumbuh dan berkembang dalam panggilan melalui semangat St. Arnoldus Janssen dan St. Josef Freinademetz. Kami harus menjadi ‘sama saudara satu dengan yang lain. Apapun terjadi. Dalam suka dan duka sebagai murid-murid Sang Sabda.’

“Menikmati suasana angkatan ada sukacita tersendiri.” Kumpul-kumpul jadi acara rutin. Di kebersamaan selalu ada gelak tawa yang sering ‘ukur kuat punya.’ Sepertinya setiap orang berlomba-lomba unjuk kekhasannya. Alo Baha memang jago dalam olah kata dengan diksi-diksi mengejutkan yang bikin ‘perut sakit.’

Si Yance Laba Iri hebat dalam ungkapan puitis. Belum lagi si Endy Hurint (almarhum) dan Eman Embu yang suka koment tampilan poin A nya si Bernard Bala Ile (almarhum). Atau ajakan si Mikel Malik untuk ‘simak kehidupan jika ada cewek yang datang ke Ledalero.’ Tetapi kami tetap teduh hati jika ada himbauan dari Ama Simon Sugi Duli, yang hampir semua kami segani.

Saya harus cukup komen di sini dulu. Bila diteruskan bisa panjang goresan ini. Tapi intinya, angkatan kami sungguh luar biasa. Semua berbakat OK untuk pentas seni, drama, olahraga.

Oh ya tentang juara pertama sepakbola di Ledalero, kesebelasan angkatan kami selalu langganannya. Angakatan di bawah kami yang pung ‘badan body ngeri’ seperti Ose Ruma, Felix Baghi atau Tadeus Wio (trio Ngada) itu Rein Kleden dan Poly Wago gojek mereka ‘maen-maen ka’ di stadion kebesaran Wairpelit.

Di kelas kami, koor angkatan pun punya kekhasan tersendiri. Di situlah, sejak masa Novisiat 1986, Yustin Genohon beri warna spesial. Suaranya indah, jago dalam dirigen. Ia sabar untuk latih kami bernyanyi untuk perayaan ekaristi. Sesekali kami bawakan lagu-lagu gubahannya. Dan sejak itu ‘terbukalah mata kami dan tahu Yustin berbakat dalam mengubah lagu.’

Nyaris setiap perayaan ekaristi di Ledalero, bila kelas kami dapat tanggungan koor, selalu ada satu dua lagu baru gubahannya. Lumayanlah dari pada ‘nyanyi lagu yang itu-itu saja.’

Syukurlah bahwa di angkatan kami ada banyak teman yang berbakat musik. Ada Yustin Jogo, Valens Daki Soo dan Polce Aklong yang ‘jago gitar,’ ada Aman Embo yang merdu dengan tiupan flute, Lukas Waru dengan serulingnya. Oh ya ada juga Porsi Nusa yang berbakat bikin komposisi orkes pengiring koor serentak maenkan biolanya.

Cerita kita lanjutkan. Ketika kami harus berpisah dari Bukit Ledalero, untuk tahbisan dan misa syukur, Yustin Genohon mengubah satu paket lagu misa syukur. Bila tak salah ingat, kalimat awal lagu pembukanya: “Kini kudengar suara Tuhan memanggilku…… Serahkan diri untuk selamanya. Dalam rangkulan kasihNya. Tuhan, Engkau memanggil aku menjadi abdiMu” (Yustin, maaf jika salah ya).

Di lembaran tahbisan SVD Provinsi SVD Ende– Seminari Tinggi St Paulus tahun 1994, foto dan nama-nama kami tertulis. Moto tahbisan kami sebagai angkatan diambil dari Injil Yohanes: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6:68). Kami merasa diutus oleh “Perkataan Hidup Yang Kekal” dan membuat “Perkataan itu tetap hidup” dalam perutusan Tuhan melalui Serikat Sabda Allah.

Dan Yustin Genohon dalam marwah perutusan Tuhan membuat “Sabda itu tetap hidup” dalam bakat komposisi lagu-lagunya. Gereja di Tanah Air, dan terutama di Nusa Tenggara, menjadi saksi bahwa sekian banyak karyanya telah tertanam indah dan subur di ladang hati umat. Tentu untuk bermadah syukur dan pujian bagi Tuhan.

Yustin, melalui melodi lagu-lagunya yang indah, khas dan populer, serta terutama syair-syairnya, sejatinya, telah ungkapkan ‘keyakinan imannya akan Allah, tentang sukacitanya akan Sabda Tuhan.’ Bukankah sebagian besar umat tetap ingat dan ulangi syair lagu: “Sabda Tuhan Sabda Hidup. Sulu jalan menuju surga. Terangi jalan gulita bagi insan kembara……”

Dalam perutusan dan hidupnya sebagai imam Tuhan, religius misionaris Serikat SVD, dalam segala suka dan duka, dalam kelebihan dan keterbatasannya, melalui talenta musik yang Tuhan anugerahkan, Yustin berjumpa dengan sekian banyak orang ‘dalam musik dan tarian serta tarian gembira.’ Saya yakin kelompok-kelompok koor di Ende, seperti Koor Ekumenis Efata tetap mengenangnya. Alma mater Ledalero pun kehilangan Yustin.

Akhirnya, ada hal sepele yang mau saya lanjut. Di berita tahbisan angkatan kami 1994 itu, nama Yustin Genohon tercatat punya destinasi perutusan ke negara Ekuador. Tak jadi ke negeri Amerika Latin sana, Yustin tetap bertahan di Provinsi SVD Ende. Orang dengan bakat musik sepertinya jangan ‘lepas jauh.’ Dan Yustin pernah jadi anggota Komunitas BBK Ende, Syuradikara (bila tak salah) dan juga sebagai pastor rekan di Paroki Onekore.

Syukurlah untuk saya saat ke Ende dari Ruteng, bisa ketemu Yustin Genohon di Onekore atau Yance Laba Iri di Biara SVD St. Yosef Ende. Iya, sekedar ngobrol-ngobrol mengenang Ledalero.

Yustin, bagi saya, bukan sekadar konfrater SVD ‘biasa.’ Ia telah masuk dalam ‘lingkaran keluarga orangtua saya.’ “Terima kasih, teman. Karena selama saya jauh di tempat lain, teman sering kunjungi  Bapa dan Mama ketika mereka masih hidup serta keluarga saya, terutama adik Heni Beo di Pahlawan-Ende..”

Selamat jalan teman pada hari pemakamanmu, 21 Juni 2023. Doakan kami semua, teman-teman seangkatanmu, dan siapapun yang telah engkau titipkan hati religius-misionermu.

Terkenang lagi syair lagu gubahanmu SAAT INDAH

“Saat indah berjumpa dengan Tuhan. Hati yang layu dan dahaga disegarkan oleh CINTANYA. Jiwa dan raga dibaharui dengan rahmatNya.

Indahnya kasih Tuhan menyinari hidup ini.

Berteduh dalam CINTANYA dalam kasihNya yang tak berubah.

 Gaungkan syukur dendangkan puji bagi Tuhan…”

 

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro-Roma

Pos terkait