“Sangat disesalkan bahwa satu setengah bulan setelah percakapan dengan Patriark Kirill, Paus Fransiskus memilih nada yang salah untuk menyampaikan isi percakapan,” kata Departemen Hubungan Luar Patriarkat Rusia sebagaimana dilansir CNN.
“Deklarasi semacam itu tidak berkontribusi untuk membangun dialog konstruktif antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Rusia yang sangat diperlukan saat ini,” bunyi pernyataan itu.
Juga pada Rabu (4/5/2022) terungkap bahwa Patriark termasuk di antara individu-individu yang akan dimasukkan dalam putaran keenam sanksi Uni Eropa (UE) yang diusulkan terhadap Rusia, menurut dua sumber yang telah melihat dokumen lengkap.
Draf yang diusulkan telah dikirim ke duta besar terkait untuk ditinjau. Pada tahap ini, nama-nama dapat dihapus atau ditambahkan atas kebijakan negara anggota, kata sumber Komisi UE.
Juru Bicara Gereja Ortodoks Rusia, Vladimir Legoida, mengatakan, sanksi itu tidak masuk “akal sehat”, lapor kantor berita negara Rusia TASS.
“Semakin sembarangan sanksi (ini), semakin mereka kehilangan kontak dengan akal sehat dan semakin sulit untuk mencapai perdamaian, yang didoakan oleh Gereja Ortodoks Rusia di setiap kebaktian dengan restu Yang Mulia Patriark, dan bantuan untuk semua yang terkena dampak konflik Ukraina, hanya berfungsi untuk menegaskan kata-katanya,” kata Legoida dalam sebuah unggahan Telegram, Rabu (4/5/2022).
“Hanya mereka yang benar-benar tidak tahu sejarah Gereja kita yang dapat berusaha mengintimidasi pendeta dan orang percayanya dengan menyusun beberapa daftar (sanksi),” kata Legoida.







