Oleh Kons Beo, SVD
Belum ‘apa-apa,’ beberapa nama sudah diorbitkan. Katanya bakal hadir sebagai Paus berikutnya selepas ‘sede vacante’ setelah Paus Fransiskus. Parolin, Erdo, Tagle, Turkson, Zuppi, itu nama-nama yang digadang-gadang dan meroket. Punya kans besar, katanya. Ssst, sabar dulu. Ada rumor yang tetap terulang, ‘Masuk Kapela Sistina (konklaf) sebagai sebagai kandidat kuat, nanti keluarnya toh tetap sebagai Kardinal.’
Media ribut kupas mengulas. Publik berandai-andai penuh spekulasi. Sudahlah! Teknologi komunikasi sudah maju. Tak ada yang bisa disembunyikan. Tak bisa ditutup rapat-rapat lagi.
Bicara-bicara lepas tak mungkin dibendung. Kali ini mesti ‘kembali ke pangkuan orang Italia setelah tak lagi di palazzo apostolico 0sejak Albino Luciani (Paus Yohanes Paulus I). Fransikus memang berdarah Italia, tapi ia ‘lahir besar di Argentina sana.’
Terbaca juga alarm.
Jangan juga Paus berumur muda di bawah 70 tahun. Itu dianggap progresif dan liberal. Dan itu berbahaya. Gereja bisa diacak-acak, dibantai dan ditelan zaman nantinya.
Tetapi, janganlah juga terlalu uzur Pausnya. Gereja nanti dianggap tak selaras zaman. Terlalu kaku, over-tradisional dan bahkan arkais. Ini amatlah kontra-produktif dengan zaman milenial, yang disinyalir pesat berkembang oleh eforia jumlah kaum muda yang melejit. Semua pada mau bersuara.
Iya, sudahlah. Gereja atau komunitas umat beriman level mana saja memang tak sepi di arus pemilihan jabatan. Lihat dan alami saja ‘rame-ramenya umat Allah bersuara’ di seputar pemilihan Ketua KUB/KBG, Ketua Pelaksana Dewan Pastoral Paroki, penentuan Pastor Paroki, Vikep atau Pastor Deken….







