Kaum religius yang berkaul pun sering juga tak mau hanya andalkan doa. Untuk mohon petunjuk ilahi demi terpilihnya pimpinan ordo-serikat di berbagai levelnya. Umat Allah ini dan itu, kelompok sini atau di sana pun sering ‘ribut-ribut’ atau pun ‘senyap-senyap’ bermanuver penuh zig-zagnya. Semuanya demi sebuah komposisi leadership, yang terkadang tak imun dari virus primordialistiknya.
Mari, jangan sekali-kali lupakan sejarah. Tentang posisi terdepan, sisi kiri dan sisi kanan, bukan kah hal itu telah jadi sumber tensi di antara para murid di zaman Yesus sendiri’ (cf Mat 20:24-34)?
Gereja, di arung sejarahnya, tak senyap dari perlawanan satu terhadap yang lain. Gereja yang Satu tak senyap dari pelabelan nama-nama untuk ‘kelompok-kelompok dengan tendensinya.’ Ada yang dinilai progresif dan ada yang tradisionalis; ada yang liberal dan yang juga konservatif.’ Kelompok-kelompok ini juga diberi pula label Agustinian – pro ajaran St Agustinus dan lain lagi label Thomis, yang bersandar pada ajaran St Thomas Aquino. Kita tetaplah ‘Gereja yang tampak terkotak-kotak, namun tetap berjalan menuju persekutuan (komunio).
Satu catatan sejarah ingatkan semua. ‘Pada Konsili Vatikan II, tahun 1963, tiga serangkai Karl Rahner seorang Jesuit, Edward Schillebeeckx yang Dominikan dan Hans Kung seorang imam Diosesan, miliki kiat untuk terbitkan majalah berkala yang berbicara tentang agenda-agenda Konsili. Majalah itu menghimpun para teolog dari berbagai latar dalam rangkulan Konsili, dan diberi nama Concillium.





