Rebut Paus di Laut Sawu, Putera Lembata Raih Doktor di UGM

lembata disertasi2

Menurut Raja Dasion, ada dua hal penting dari term ‘merebut” paus di Laut Sawu dalam disertasi itu. Pertama, terjadi gap pengetahuan antara konservasi global dengan konservasi lokal dalam hal ini masyarakat Lamalera. Kedua, saat negara dan aparatusnya hadir dengan konsep konservasi global ada antagonism, penolakan masyarakat Lamalera dengan wacana konservasi lokal tradisi berburuh paus di Laut Sawu hingga saat ini.

Ia menambahkan, ada banyak subyek dalam kontestasi ‘merebut’ paus di Laut Sawu. Subyek dimaksud adalah negara dan aparatusnya, juga beberapa lembaga konservasi global seperti World Wildlife for Nature (WWF) dan The Nature Concervacy (TNC). Kemudian aparatus negara seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Kelautan dan Perikanan baik Kabupaten Lembata maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berikut di tingkat lokal ada banyak subyek yang begitu cair seperti para tetua adat, nelayan, dan organisasi-organisasi yang mendukung upaya lefa nuang atau tradisi berburuh paus yang hingga saat ini bertahan dan dilakukan masyarakat lokal Lamalera.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tatkala paus dilarang diburuh oleh negara melalui aparatusnya karena takut terhadap tekanan global, maka posisi masyarakat lokal juga tentu berpengaruh. Namun hal ini, menurut Raja Dasion, masyarakat Lamalera menggantungkan konservasi dengan mempertahankan kearifan lokal karena sejak dulu konsep konservasi masih sama.

Perbedaannya, kata Raja Dasion, terletak pada beberapa cara. Pertama, sejak dulu masyarakat Lamalera menggunakan tombak atau peralatan tradisional, traditional tools untuk menikam paus. Kedua, sebelum melakukan tradisi lefa nuang, ada beragam ritus yang harus dilakukan. Hal ini wajib karena paus tak sekadar urusan kepentingan ekonomi tetapi juga masalah teologis, filosofis, sosial, dan keseluruhan sistem hidup masyarakat lokal dalam hal ini Lamalera.

Pos terkait