Oleh Pater Kons Beo, SVD
Bacaan I Yeremia 20:10-13
Mazmur Tanggapan Mzm 18: 2 – 7
Ref: “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan suaraKu”
Injil Yohanes 10:31 – 42
“…tetapi semua yang dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.”
Yoh 10:41
(Omnia autem quaecumque dixit Ioannes de hoc, vera erant)
Kawan ku…
Entahlah, apa sebenarnya yang dilakukan Yesus? Kelompok yang sama itu, dan orang-orang yang terhasut terus saja ingin menangkapNya, ingin melemparkanNya dari tebing gunung. Yesus ditolak! Dan pada titiknya, rencana untuk ‘mengakhiriNya’ perlahan-lahan dimatangkan.
Kawan ku
Sebaik dan semulia apapun sikap hati dan tindakan Yesus, selalu ada hal yang diyakini sebagai ‘titik hitam.’ Yesus penghojat Allah. Ia samakan DiriNya dengan Allah. Padahal Ia hanyalah seorang manusia (Yoh 10:33).
Orang pada tak melihat kuasa Allah yang nyata dalam Diri Yesus.
Maaf kawan ku…
Orang tak peduli lagi akan litania baikmu. Yang digencari adalah ‘hojatan hidup’ yang kau alami dan yang kau perbuat. Dunia sudah pada yakin: ‘Baik adalah keharusanmu. Tapi bicara pekat dan hitammu itu kewajiban kami.’
Kawan ku….
Satu sepak pojok mungkin saja terdengar lucu namun berisi tipis menyengat. Katanya, ‘lidah buaya bikin kepala segar; namun lidah tetangga bikin kepala pusing.’ Suara orang luar sorak memuji penuh dukungan dan juga mempersekutukan, sayangnya, suara orang-orang di dalam sendiri itu gencar berbisik-bisik menghasut. Bernada retak pecah-pecah!
Kawan ku…
Untuk kita berdua sendiri?
Semestinya kita berdua berbesar hati untuk saling mengampuni. Tulus dan dengan jiwa besar. Tidak kah kita berdua pernah saling mencari-cari salah dan kelam punya kita masing-masing? ‘Kau bicara hitamku, akupun sekian sengit cari-cari kepekatanmu.’







