Oleh Pater Kons Beo, SVD
“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?” (Quare nos, et Pharisaei ieiunamus frequenter: discipuli autem tui non ieiunant?)
Kawan ku…
Biarlah kita jadi ‘bebas, tulus dan apa adanya di hadapan Tuhan dan terhadap sesama.’ Kita menata semuanya dalam puasa. Dan lagi, sebuah jarak spiritual batiniah kita ciptakan. Demi kelegaan hati dari segala kelekatan yang berdaya pikat.
Kawan ku…
Puasa bukanlah ‘aktus siksa diri.’ Bukan! Justru sebaliknya. Puasa itu bebaskan diri dari kehendak tak beraturan yang nyata-nyata menyiksa diri.
Kawan ku…
Kita sepantasnya ingat lagi akan kata-kata agung Yesus, Tuhan dan Guru. Tak usahlah beri pesan dan kesan air muka serta kata pada publik bahwa kita sedang berpuasa. Tak usah! Lihatlah! Murid-murid Yohanes itu merasa perlu sekali beri pesan pada Yesus: ‘Kami dan orang Farisi berpuasa…’ Wah, silahkanlah puasa dalam sunyi, dalam diam dan tak usah tertampakan.
Kawan ku…
Memanglah puasa spiritual sebenarnya kembalikan kita berdua untuk ‘pulang dan masuk ke dalam diri sendiri.’ Untuk merapikan kembali hati, pikiran, dan kehendak. Semuanya terpintal di dalam doa dan keheningan.
Kawan ku…
Kutak tahu apa dan bagaimana pikiranmu. Puasa yang benar itu bermuara pada sikap, pada tingkah dan perbuatan nan lembut penuh kasih terhadap sesama. Tak menekan dan menyakitkan.
Kawan ku….
Puasa batin ini memanglah mesti berbuah pada tertibnya geliat pancaindra. Yang tak eror, yang tak bikin gaduh, atau pun hening yang dipaksa tekankan penuh genting dan menakutkan. Iya, puasa bukanlah keadaan darurat spiritual dengan banyak alarm berat jangan ini dan tidak boleh itu.







