“Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama pemungut cukai dan orang berdosa?” (Quare cum publicanis, et peccatoribus manducatis et bibitis?)
Oleh Pater Kons Beo, SVD
Kawan ku…
Adalah garis pemisah. Itu sebenarnya yang terjadi. Yang, sadar dan tak disadari, digelorakan seru, pun dalam bisik-bisik senyap. Dibikin jadi nyata. Ditiup di sini. Dihembuskan ke sana. Jadi menjalar lebar meluas.
Kawan ku..
Ada kaum bermodal yakin dan klaim ‘suci, baik, benar, saleh, murni, bermoral-adab, sarat segala layak dan pantas!’ Semuanya mesti dibentengi. Dibangun pembatas yang jelas. Sebab tak boleh cemar dan busuk oleh yang najis, haram, rusak, kafir, sampah dan lalat, selalu salah dan sesat….’
Kita pun sering beria-ria dalam lidah, ‘Betapa terpuruk kelamnya hidup saudara dan sesamaku. Seolah-olah kita sendiri sungguh ‘suci lahir dan di dalam batin….’
Kawan ku…
Kuberkiblat pada Allah Pengasih dan Penyayang. Yang dalam Diri PuteraNya datang ke bumi fana. Mencari untuk menemukan yang hilang dan terkucilkan. Yang terhempas oleh stigma ‘kaum buangan. Ialah Allah yang batalkan segala upaya demi ‘garis pemisah.’
Sebab, kawan ku….
Firman KehidupanNya menantang penuh harapan:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:31 – 32).
Bagaimana pun, kawan ku…
Yesus, tak begitu saja datang, ada dan hadir di pihak ‘kaum najis dan tak sehat dalam hidup.’ IA, sejatinya, rindukan dan bahkan menuntut pertobatan. Iya, “supaya mereka bertobat,” FirmanNya.







