Oleh Pater Kons, Beo, SVD
Kawan ku…
Sungguh tak mudah lepaskan apa yang telah digenggam. Apalagi bila itu telah sekian terikat pada ‘hati yang melekat.’
Orang itu telah turuti segala Hukum Musa. Tak ada yang dilanggarnya. Namun, untuk masuk Kerajaan Surga, Yesus menuntut agar hartanya yang banyak itu dijual. Hasil penjualannya hendaknya diberikan pada orang miskin, dan kemudian dengan hati bebas ia bisa segera ikuti Yesus.
Sayangnya, kawan ku…
Orang itu sulit tinggalkan harta dan kekayaannya. Harus kah dijual semuanya? Mesti kah dibagi-bagi kepada orang miskin? Lalu harus kah ikuti Yesus, yang tiada dan miskin?
Kawan ku…
Bagaimana pun, ingin kubilang padamu, “Aku pun sebenarnya kagum pada orang kaya itu. Ia nampaknya spontan dengan rasa hatinya. Ia kecewa dan pergi dengan sedih dari hadapan Yesus. Si orang itu jujur dengan kata hatinya. Ia.pun tinggalkan Yesus. Biarlah ia tetap ‘menjadi kaya dan banyak hartanya di jalan hidup dan kerjanya…”
Kawan ku….
Ada yang kulihat dan kurenungkan dari kita berdua. Mungkin kah si orang kaya itu ‘lebih jempolan’ sikapnya dari kita berdua? Sebab dia jujur untuk menjauhi Yesus.
Sementara untuk kita berdua, kawan?
Berapa banyak jaminan yang kita peroleh untuk diri kita sendiri karena ‘ikuti Tuhan?’ Orang itu tinggalkan Yesus untuk tetap menjadi kaya dan bertambah hartanya dengan usahanya sendiri.
⁶Namun,.kawan ku…
Untuk kita berdua lain ceritanya. Kita ingin tetap kaya dan malah bertambah harta di jalan ⁸mengkuti Yesus dan atas Nama Yesus sebagai jaminan.






