“Keadaan stunting atau balita bertubuh pendek merupakan indikator masalah gizi dari keadaan yang berlangsung lama. Seperti masalah kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, pola asuh, dan pemberian asupan makanan yang kurang baik dari sejak si kecil lahir. Akibatnya, si kecil tidak tumbuh sesuai dengan indikator tinggi badan yang ideal sesuai usianya,” jelas Alber.
Ketika balita mengalami stunting, kata Alber, artinya selain mengalami gangguan pertumbuhan, umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak balita normal.
Selain itu, anak balita stunting lebih mudah menderita penyakit tidak menular ketika dewasa dan memiliki produktivitas kerja yang lebih rendah. Dengan menanggulangi stunting pada si kecil sejak dini itu turut meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan.
Angka stunting akibat kekurangan gizi di Indonesia, jelas Alber, masih sangat tinggi. Berdasarkan Indeks Tinggi Badan per Umur (TB/U), menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, angkanya mencapai 37,2 persen atau sekitar 8,8 juta balita Indonesia mengalami stunting.
Kepada para peserta, Alber juga memaparkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Di antaranya kesehatan dan gizi ibu yang buruk, asupan makanan si kecil yang tidak memadai, dan infeksi.
“Secara khusus, hal ini meliputi status gizi dan kesehatan ibu sebelum, selama dan setelah kehamilan yang ikut berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan awal anak,” katanya.
Faktor lain dari sisi ibu yang dapat menyebabkan stunting meliputi perawakan anak yang pendek, jarak kelahiran terlalu dekat, dan kehamilan remaja yang mengganggu asupan nutrisi ke janin. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan nutisi untuk pertumbuhan ibu yang masih remaja.







