Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pengunjung TNK pada tahun 2020, merosot tajam. Totalnya hanya sebanyak 51.618 orang. Kendala pengganjalnya adalah pandemi Covid-19, yang sampai hari hari ini masih terus melanda.
Berangsur Molek
Belum diketahui secara rinci pihak atau instansi mana yang berperan dominan terkait gencarnya pembenahan wajah Labuan Bajo yang merupakan gerbang masuk ke TNK. Yang dapat ditangkap mata, pembenahan kota itu mendapat sentuhan serius menyusul kehadiran BOP atau BPO itu. Bisa disebutkan sejumlah contohnya. Di antaranya barisan tenda permanen di Kampung Ujung. Bangunan tenda yang sejak beberapa tahun lalu menjadi titik idola kuliner ikan bakar, ditata ulang.
Berbagai jenis proyek lain juga gencar melebarkan sekalian memuluskan jaringan jalannya. Sejumlah ruas jalan terutama menyusur pantai hingga Pantai Pede, bercadikkan trotoar apik. Berbagai jenis pohon sedang dalam proses tumbuh, sebagiannya mulai merimbuni tepi jalan. Amat sedikit jenis pohon endemik Flores. Terbanyak jenis pohon intervensi, yakni jenis pohon yang didatangkan dari Jawa atau daerah lainnya.
Begitu pula kisah serakan sampah yang sejak lama menjadi noda Labuan Bajo, secara perlahan menyingkir. Peran pasukan kuning di bawah panduan Pemkab Manggarai Barat, pantas diapresiasi. “Pasukan kuning di Labuan Bajo kerjanya luar biasa. Mereka secara teratur malah menjemput sampah hingga rumah-rumah penduduk,” spontan Servatinus Mammilianus (40) di Labuan Bajo, Sabtu (1/5/2021).
Tersedot oleh daya tarik kadal komodo dalam kawasan TNK, Labuan Bajo begitu cepat ditumbuhi berbagai jenis hotel. Termasuk lebih dari 50 di-antaranya adalah hotel berbintang. Keterbatasan pasokan air yang dijeritkan sejak lama, secara berangsur pula mulai pulih. Kebutuhan air Labuan Bajo belakangan mendapat pasokan tambahan menyusul bangunan proyek baru yang mengalirkan air dari sumber Waemese. “Labuan Bajo berangsur molek,” tambah John Lewar, warga Labuan Bajo, lainnya.





