Oleh Pater Kons Beo, SVD
“Kita tak beriman lagi pada Tuhan, Allah yang mahakuasa. Sebab kita telah kebanyakan kuasa dan malah kelebihan untuk menguasai dan menekan….” (Sepak Pojok Sang Bijak)
Hidup Ini Kenyataan
Kalimat ini memang mesti diseriusi, “Orang yang berdoa tidak lari dari kenyataan. Justru sebaliknya. Orang yang tidak berdoa itu belum belajar mengakui kemanusiaan dan kelemahannya.” Bila mesti ditelisiki penuh sunyi, yang kita yakini sebagai doa, ternyata memang seyogiyanya mesti dirunut. Itu kah yang disebut ‘doa?’
Doa terbanyak adalah ‘semburan harapan lapis demi lapis. Dimeterai dalam kata-kata. Digemakan dalam emosi serba-serbi intensi dalam hati. Terarah pada Langit. Dan Langit pun nampaknya ‘diobok-obok’ demi ikuti apa yang kita impikan. Setidaknya Tuhan mesti segera turun tangan. Untuk tunjukkan kuat kuasa dan keperkasaanNya.
Doa, dalam bingkai mirakolisme, sering tak terhindar pula. Tuhan terus saja ditampar dan diserang dalam semburan peluru kata-kata. Dengan banyaknya kata-kata, bakal segera turunlah keajaiban. Di situ, sebenarnya Tuhan telah ‘diborgol’ dalam keinginan manusia ini itu. Dan lagi?
Tuhan Yang Tergaransi
Bahwa doa sering terperangkap dalam ‘mutualisme reciprocal-sakral.’ Artinya? “NamaMu semakin kami muliakan, Tuhan dan Allah kami, sekiranya Kau tunjukkan kuat kuasaMu dalam mujizat yang tak terjangkau akal pikiran kami…”
Di sudut pandang tertentu, tidakkah doa sering terkesan sebagai ‘a show of force in faith, suatu demo kekuatan dalam keyakinan’? Bahwa ‘aku beriman pada Tuhan yang ‘paling benar?’ Aku merasa lepas bebas dan spontan untuk berdoa pada Tuhanku yang paling benar itu. Ini terdengar sewajarnya. Tak ada salahnya di situ. Sayangnya?






