Tuhan seperti itu tampaknya tergaransi oleh tuntutanku bahwa ‘mesti terjadi mujizat.’ Tuhan yang kuimani dalam untaian doaku haruslah jadi ‘Tuhan yang datangkan heboh dan bangkitkan kekaguman.’
Tuhanku Lemah Tak Berdaya?
Tetapi juga bahwa Tuhan seperti yang kuimani itu tampaknya terlalu ‘lemah dan tak berdaya’ untuk membuatku damai, tenang, spontan serta ceriah di hati dalam menghadapi kenyataan dan kepastian alam dan kehidupan. Arti konkritnya misalnya?
Ambil contoh, bahwa terdapat ketidaksanggupan hati dalam ‘merasa nyaman dalam kebhinekaan.’ Sementara alam terlalu kaya untuk mati-matian ditafsir picik dan diterima hanya dari satu sudut pandang. Doa yang benar bukanlah sebentuk proklamasi bahwa ‘hanya demi kami saja.’ Dan mesti dimusnahkan segala yang lain, ‘yang bukan kami.’
Sepertinya pula terdapat kecenderungan untuk bersikap bahwa ‘tesis dan ungkapan iman’ jadi benar dan pasti unggul (menang telak) saat merasa telah melibas atau menghina tesis dan sikap beriman dari yang tak seiman (seagama). Itulah yang terjadi dan terekam tiada henti-hentinya. Yang bisa disebut saja sebagai ‘perang buta agama tanpa akal dan pengetahuan.’ Dan lagi?
Pembenaran Iman vs Penghayatan Iman
Di sini, mungkinkah (kelompok) individu ini sebenarnya lagi terperangkap dalam sebatas jebakan perangkap ‘logika pertandingan tesis iman (agama) yang off-side?’ Ketimbang bagaimana seharusnya menghayati isi iman (agama) masing-masing? Dan tentang doa?
Doa sering tak lebih dipakai sebagai kanal seruan pada Tuhan. Semuanya demi ‘pemeliharaan apa yang telah semaunya dibakukan oleh penganut agama.’ Semuanya demi terciptalah rasa aman, situasi rasa tak terusik oleh ‘yang lain,’ iya oleh ‘yang bukan kami.’






