Padahal, senyatanya, doa bukanlah semata-mata soal pemeliharaan, apalagi pembakuan dan pembekuan yang dipatokan. Buah doa mesti pula mengubah atau berputar haluan. Artinya? “Berdoa berarti melepaskan rasa aman palsu” (With Open Hands-Nouwen).
Sebab itulah sebagai seruan, doa bukanlah satu amanat kepada Yang Mahakuasa untuk membinasakan yang dianggap musuh. Atau bahwa sebaliknya mesti digunakan nama Tuhan untuk menekan sejadinya yang berbeda. Atau sebagai mandat tiranian terhadap yang didakwah sebagai ‘kaum berkelainan.’
Doa: Tuntunan kepada Kenyataan
Doa itu, kata si bijak, adalah seruan kepada Langit, yang lalu tergema kembali pada Bumi. Yang segera mesti terserap indah ke dalam nurani manusia beriman. Semuanya agar manusia beriman berubah untuk “Lebih terbuka, jujur dan tidak terlalu mengandalkan diri sendiri.”
Doa tidak bermuara selalu pada rasa berani, apalagi berani yang beringas, penuh ancaman, yang sebenarnya justru menandakan ketakutan. “Justru karena Anda takut berhati kerupuk, maka Anda mesti membekali diri dengan perlengkapan senjata perang. Doa segera berubah menjadi pekikan harapan akan maut dan kematian.”
Doa Reflektif: Mengurai Diri Yang Lemah
Tradisi kristiani ingatkan akan adanya apa yang disebut doa reflektif. Doa seperti itu sesungguhnya berisi harapan ‘da mihi virtutem.’ Agar kepada manusia diberikan keberanian-kekuatan kepada pengakuan tulus bahwa “kita tidak sekuat, seberpengaruh, sepenting dan semandiri seperti apa yang kita pikirkan.”
Doa reflektif sebenarnya membongkar segala kepalsuan hati yang ‘ditabernakelkan dalam diri.’ Di situ, individu beriman memang disanggupkan dalam kerendahan hati untuk “mempersembahkan kelemahan dan ketidakberdayaan agar dapat menerima kekuatan dan anugerah baru…”






