Duka NTT dan Duka Saya

daniel dhakidae

Daniel Dhakidae meninggal sekitar pukul 07.24 WIB di Rumah Sakit MMC Kuningan, Jakarta, akibat serangan jantung. Serangan itu terjadi pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, kemudian dilarikan ke rumah sakit, namun tidak tertolong.

Pada dinihari hari yang sama, seniman Umbu Landu Paranggi juga berpulang. Sang penyair besar Tanah Air ini meninggal dunia di RS Bali Mandara, Denpasar, sekitar pukul 03.55 wita.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Lalu, Dr. Kamelus Deno, menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 22.20 Wita di Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo, Manggarai Barat. Peristiwa duka itu datang setelah almarhum menjalani perawatan di rumah sakit itu selama dua pekan, sejak Selasa (23/3/2021).

Daniel Dhakidae

Bagi saya, kepergian ketiga tokoh terasa menambah pekat perkabungan akibat badai siklon tropis seroja di NTT. Penyebabnya karena saya memang kenal dekat dengan ketiga almarhum semasa hidupnya.

Kedekatan dengan Daniel Dhakidae ketika kami masih sama-sama aktif di Harian Kompas. Sang cendekiawan setelah merampungkan kuliah S3 di Universitas Cornel di Ithaca, New York (AS), mengemban tugas sebagai Kepala Litbang Kompas (1995 – 2005). Merujuk penelitian serta analisisnya yang tajam dan kritis, Daniel Dhakidae selalu tampil memberikan panduan menjaga eksistensi Kompas selama Orde Baru dan era Reformasi.

Pernah suatu ketika tahun 1990-an kebetulan papasan dalam lift dari lantai 3 Redaksi Kompas  ke lantai dasar. Saya menyampaikan apresiasi karena salah seorang putra Flores mendapat kepercayaan menjadi menteri pada Kabinet Gotong Royong. Reaksi sang cendekiawan justru sangat mengejutkan. “Hei Frans, kepercayaan itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, tapi justru sebuah pelecehan bagi NTT dan Flores khususnya,” begitu respons Daniel Dhakidae.

Pos terkait