Umbu Landu Paranggi
Terutama di kalangan budayawan dan sastrawan, nama Umbu Landu Paranggi memang dikenal luas di Tanah Air. Lahir di Sumba Timur, NTT, 10 Agustus 1943, sang penyair dikenal juga dengan nama lain sebagai Presiden Malioboro.

Saya akhirnya bisa jumpa secara fisik dengan sastrawan misterius itu, ketika saya bertugas sebagai kepala Biro Kompas Wilayah Bali, NTB, NTT (2003 – 2010). Kantor pusatnya di Denpasar. Kisahnya berawal dari kunjungan ke Taman Air Tirta Gangga di Karang Asem, tahun 2004. Ketika memasuki tempat rekreasi itu, saya terkejut bercampur rasa kagum menyaksikan prasasti pembangunannya justru ditandatangani oleh Umbu Landi Paranggi.
Beberapa hari setelahnya saya mendapat kabar kalau Sang penyair sudah menetap di Bali sejak tahun 1970-an. Namun anehnya, sulit mendapatkan alamatnya. Juga tidak bisa mengontaknya karena Umbu tidak memiliki telepon seluler atau HP. Akhirnya tiba waktunya, Pemimpin Redaksi Sarad (majalah budaya) di Denpasar, Ketut Sumata, mengontak saya dan memberitahui kalau ia sedang bersama “Presiden” (maksudnya Umbu Landu Paranggi). Dalam nada bisik-bisik, ia meminta saya segera datang dan bergabung. Saya pun langsung meluncur dan terjadilah pertemuan langsung yang ditunggu sejak lama.
Singkat cerita, bersambunglah kontak-kontak akrab hingga sampai pada permintaan-permintaan yang terkesan janggal. Salah satu contohnya, saya diminta oleh-oleh “gula manggarai”. Gula merah itu memang diproduksi oleh kelompok masyarakat Kolang di Kabuparen Manggarai Barat. Mendapatkannya tidak gampang, karena di Kolang sendiri memang sudah sangat langka. Ketika saya mengusulkan agar digantikan gula merah yang dihasilkan masyarakat Rote atau Sabu, Umbu menolaknya. Kata dia, gula manggarai tidak tergantikan!





