Duka NTT dan Duka Saya

daniel dhakidae

Berbagai pihak – di antaranya Ketua Dewan Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3S), Didik J Rachbini – melukiskan Dhaniel Dhakidae sebagai intelektual yang egaliter, juga individu yang sangat toleran. Namun pada saat yang sama dikenal sebagai intelektual yang keras menentang feodalisme pemerintahan Orde Baru.

Salah satu contoh gugatannya terhadap kekuasaan otoriter Orde Baru bisa disimak melalui salah satu bukunya yang berjudul: Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003). Di sana, almarhum antara lain menggugat kekejaman rezim Orde Baru yang sampai melenyapkan penyair kerempeng Wiji Tukul. Daniel melukiskan Wiji Tukul tidak hanya piawai merangkai kata menjadi kalimat puitik. Sang penyair dan juga rangkaian kata-katanya terasa berkekuatan dahsyat menjadi penggerak massa yang tertindas. Salah satu puisi karya Wiji Tukul berjudul “Peringatan!” Diduga kuat, puisi itulah yang menjadi pemicu hingga kekuasaan melenyapkan Wiji Tukul sejak 23 Juni 1998.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Masih melalui buku yang sama, Daniel Dhakidae sampai mengutip kritikus sastra yang juga filsuf Prancis, Michel Foucault (1926-1984). Kutipan itu dengan kepentingan menjustifikasi kekuatan sebuah kata, termasuk rangkaian kata puisi karya Wiji Tukul, hingga sang penyair dilenyapkan. Seperti diungkapkan Daniel, kata yang diposisikan secara tepat, apalagi dirangkai secara puitik, akan terasa berjiwa. Bahkan rangkaian kata berjiwa tidak jarang menjelma bagai binatang liar yang tidak terjinakkan!

Pos terkait