Duka NTT dan Duka Saya

daniel dhakidae

Ada lagi contoh lainnya. Budayawan yang juga kritikus sastra Ignas Kleden pada tahun 2004 menerbitkan buku berjudul “Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan”. Umbu mengontak dan mengatakan ingin memiliki buku itu. Permintaannya lagi-lagi janggal. Ia mau memiliki buku itu melalui saya, namun bukan saya yang membelikan. Saya terkejut karena pemintaannya membelikan buku itu harus oleh Maria Hartiningsih (wartawan Kompas di Jakarta). Sebagai buktinya, harus ada tanda tangan Maria dalam buku itu.

Kamelus Deno

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Bagi saya, Kamelus Deno tidak hanya kenal dekat. Kami memang sahabat, bahkan sangat dalam. Awalnya sejak aktif di PMKRI Kupang tahun 1980-an. Khusus dari Manggarai Raya, kami yang seangkatan berlima. Tiga lainnya adalah Setus Mitak (Mantan Sekda Manggarai), Alo Sukardan (Mantan Dekan Fakultas Hukum Undana) dan Andreas Agas (Bupati Manggarai Timur).

deno kamelus
Deno Kamelus

Kami memang terkadang berbeda terutama terkait pilihan politik. Namun dipastikan perbedaan apa pun tidak memudarkan pesahabatan kami. Bahkan jika kami bersua dan tanpa ada pihak lain, kami selalu menandainya dengan sapaan khas tanda keakraban, meski sesungguhnya bermakna jorok.

Ada sejumlah contoh khusus sebagai tanda keakraban sangat dalam antara saya dengan Kamelus Deno. Salah satunya ketika sedang aktif di Marga PMKRI Cabang Kupang. Kami bisa saling pinjam celana saat bermain voli atau kegiatan lainnya.

Selamat jalan cendekiawan Daniel Dhakidae, sastrawan Umbu Landu Paranggi dan sahabat Kamelus Deno. Saya yakin kalian bertiga lapang menuju kampung damai untuk selamanya, bersama para korban badai siklon tropis seroja. Kepergian kalian semua meninggalkan duka pekat bagi NTT dan juga saya.    (*)

Pos terkait