“Engkau Sudah Makan?”

romo gofil

Romo Gofil teringat dan terkesan akan cerita pilu Padre Roberto bahwa di suatu hari sekian tahun silam, seorang dari kaum senza tetto (kaum tak punya rumah) ditemukan mati terkapar di halaman kampus Universitas Urbaniana. Dari kisah penuh haru itu para student, kebanyakan para imam, diajak Padre Roberto untuk bergabung dalam kelompok sukarela yang dibentuk itu.

Bagi Romo Gofil ajakan itu adalah peluang mulia baginya untuk menyapa sesama. Ya, terutama yang mengalami bahwa hidup ini tak mudah untuk dihadapi. Di tengah hiruk pikuk kesibukan manusia modern siapapun bisa terjebak dalam style hidup yang mementingkan diri sendiri. Sementara yang kurang beruntung nasibnya sungguh menggantungkan harapannya pada sesamanya berkemurahan hati.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Otak Di Kampus-Hati Di Jalanan

Simaklah apa yang jadi suara hati Romo Gofil, “Saya ingin memupuk iman saya lebih dalam dengan tindakan-tindakan kecil. Apa yang saya imani memang saya temukan dalam tindakan nyata. Bukan hanya melalui banyak teori dan ulasan-ulasan dokrinal, yang kadang-kadang saya sendiri belum pahami betul.”

Syukurlah! Teori dan ajaran di kampus yang membuka cakrawala berpikir, kini terjumpakan secara konkrit di lapangan. Romo Gofil ungkapkan rasa hati penuh syukur. Setidaknya dua kali seminggu pada hari Selasa dan Kamis, pagi-pagi ia tinggalkan komunitas San Pietro. Bergabung bersama teman-teman relawan lainnya untuk memasak dan siapkan apapun untuk sarapan pagi bagi para gelandangan.

Kami keluar ke jalan-jalan, lorong-lorong serta taman-taman di sekitar Vatikan. Makan pagi kami bagikan kepada orang-orang yang tidur di pinggir jalan, di emperan apartemen, juga yang tidur di antara tiang-tiang megah Lapangan Santu Petrus…”

Pos terkait