Mereka Tak (Perlu) Tahu Saya Seorang Imam
Saat layani para gelandangan itu, Romo Gofil tak tampil telak dengan baju kolar apalagi dengan jubah imamat. Itulah pakaian kegemaran para klerus pada umumnya. Dia tampil berpakaian apa adanya. Katanya, “Agar mudah bercerita dengan mereka. Dari pada mereka nantinya lebih perhatian pakaian khusus saya… Saya hanya mau bersama mereka sebagai sahabat, sebagai sesama manusia. Kami bisa berbagi kisah lebih terbuka.”
Romo Gofil cukup mengenal wajah-wajah mereka. Katanya, “Ada yang berasal dari Polandia, Romania, Brazil, Bolivia, Maroko, Filipina, dari Afrika, bahkan dari Italia sendiri. Mereka umumnya gagal dalam adu nasib dan tak sukses dalam mencari keberuntungan hidup.”
Ada kisah menarik penuh haru yang dialami Romo Gofil. Katanya di suatu hari ketika berjalan di pusat kota, seorang tunawisma (senza tetto) segera mengenalnya. Sambil mendekati Romo Gofil, si tunawisma itu segera tawarkan makanan, “Kamu sudah makan?” Dan sodorkan sepotong roti.
Apakah itu adalah gambaran hati kaum sederhana? Tak berpunya banyak? Yang sungguh hanya harapkan kebaikan dari orang lain? Tetapi sesungguhnya mereka masih punya kebesaran hati untuk memberi. Untuk melepaskan, untuk tidak menggenggam bagi diri sendiri. Ya, untuk tulus tidak terganggu untuk melepaskan rejeki yang diperoleh tidak pasti di sepanjang hari itu. Tanpa banyak kecemasan dan rupa-rupa kekuatiran yang meliliti.
Harapan Tersembunyi
Romo Gofil punya satu harapan kecil. Siapapun terpanggil untuk berbuat baik. Bermurah hati bagi sesama yang kurang beruntung nasibnya adalah satu seni hidup yang menyenangkan. Ada keyakinan dari Romo Gofil, “Tidak perlu selalu dengan tindakan-tindakan besar. Biarlah dengan tindakan sekecil saja, sudah berguna bagi orang lain. Kita patut berbagi dan berbuat baik terhadap sesama.”





