Herodes Agung dan Tsunami Kuasa Itu

IMG 20241122 174108

Dan karena itulah Augustus, Kaiser di Roma ketika itu, mesti berpendapat, “Lebih baik menjadi babi dari Herodes dari pada menjadi putranya.” Kisah tragis itu dicatat Penulis Matius bahwa semua anak di Betlehem dan di sekitarnya, yang berumur dua tahun ke bawah, mesti dibunuh (Mat 2:16). Dan di situlah suara ratapan jerit pilu menyayat si Rahel jadi tak terbendung. Dan ia sedikit pun tak mau dihibur (cf Mat 2:18).

Herodes kelabakan di hati. Bukan karena aura rasa marah telah diperdaya oleh tiga majus itu. Bukan! Cemas dan gelisah si Herodes semakin menebal sekiranya ‘Raja Yang Baru dilahirkan itu’ bakal merongrong kuasanya dan dapat menyingkirkannya sewaktu-waktu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Tentu, Herodes berharap, di antara bayi-bayi Betlehem dan sekitarnya yang terbantai itu, terbantai pulalah “Raja yang baru dilahirkan itu.” Yang tak mungkin lolos dari mata pedangnya.

Demi kuasa dan takhta, Herodes Agung ada di jeruji penuh panik dan tak nyaman! Dia dirantai ambisi liar tak terbendung. Ia mesti hadapi siapapun di dalam curiga berat sebagai saingan yang mengancam. Di dalam Herodes, siapapun diteropong hanya dalam ‘sisi pro atau sisi kontra’ atas dan demi kekuasaannya dengan akibat positif atau negatif yang pasti.

Ciptakan saja tafsiran ilutif yang semoga ‘tak liar.’ Sebagai penguasa boneka imperium Romawi (bukan boneka partai) di wilayah Yudea, Herodes mesti menjamin bahwa di teritori kekuasaan yang dipercayakan kepadanya, semuanya dan segalanya ‘sedang dan pasti baik-baik saja.’

Herodes tentu dibenarkan Roma (Kaiser) sekiranya ia ‘mendepak, menggusur, bahkan tamatkan segera yang dianggap berpotensi atau sudah mengganggu situasi.’ Ini tentu dapat diamini sebagai solusi politik yang brilian. Namun….

Pos terkait