Herodes Agung dan Tsunami Kuasa Itu

IMG 20241122 174108

Oleh Pater Kons Beo, SVD

“Seseorang yang mengendalikan orang lain mungkin saja berkuasa. Tetapi seseorang yang mengendalikan dirinya sendiri jelas lebih berkuasa” (Lao Tsu)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Bayangkan! Tiga putranya sendiri mesti mati terbantai. Ini pun yang mesti dialami pula (para) istrinya. Semuanya akhiri hidup dalam tragedi. Herodes Agung adalah kekejaman. Darah dan kematian tak jauh kisah pilu cerita karena Herodes. Itu yang bisa disimpul dari tulisan Yosephus Flavius, pemimpin militer dan sejarahwan Romawi-Yahudi.

Di balik semuanya, Herodes sebenarnya dibelenggu rasa cemas dan takut nan akut. Itulah takhta dan kuasa. Artinya, yang dianggap mengobok-obok kekuasaan, oleh titah Herodes, hidupnya mesti segera ditamatkan. Flavius mencatat pasti bahwa Herodes itu “tidak pernah berhenti setiap hari untuk membalas dendam dan menghukum siapa saja yang dianggap musuh.”

Gegar kuasa, memang mendesak Herodes untuk tampil bagai tsunami menerjang dalam maut. Ia ‘sapu bersih’ semua yang bikin hatinya tak nyaman di takhta. Jika memang Herodeslah yang membantai tiga putranya, karena sindrom kekuasaan, maka bukan tak mungkin Kisah Injil Matius itu nyata adanya. Walau, misalnya, Michael Grant, seorang sejarahwan klasik, berpendapat bahwa ‘kisah infantisida di Betlehem itu hanyalah sekadar sebuah mitos atau dongeng.’

Bukan soal bahwa ditaksir ‘hanya’ sekitar 20-an lebih anak laki-laki di kota kecil Betlehem dan sekitarnya yang meregang nyawa di tangan Herodes. Tetapi bahwa darah, kekejaman mata pedang Herodes telah isyaratkan nyata-nyata bahwa ketakutan akan kuasa, tak bisa tidak mesti lahirkan teror dan perilaku nan brutal di bingkai kekuasaan dan takhta.

Pos terkait