Dalam perkembangan selanjutnya istilah sound bite ini menjadi sebuah upaya menjatuhkan calon tertentu ketika koda, gagasannya dipotong, bahkan dimanipulasi sebelum ditampilkan ke laman media sosial dengan tujuan untuk saling menjatuhkan lawan politik. Dengan pemotongan pembicaraan apalagi penyimpangan pesan maka di kalangan masyarakat pemilih dapat timbul konflik. Di laman media sosial beberapa orang menampilkan video dengan pesan di awal kira-kira seperti ini, perbiasakan mendengarkan sampai selesai adalah bentuk pendidikan politik yang mencerdaskan. Publik harus diperbiasakan untuk mendengarkan informasi secara utuh, diajak untuk berpikir kritis agar sanggup melihat Flores Timur secara utuh, bukan secara parsial atau secara kewilayahan. Publik harus dicerdaskan bahwa calon pemimpin yang akan dipilih adalah orang yang akan mengelola kebijakan publik Flores Timur, bukan mengelola perusahaan pribadi, bukan mengelola anggaran pribadi tetapi ia mengelola aset publik.
Literasi demokrasi harus menyadarkan publik bahwa menjadi pejabat publik bukan karena calon tertentu telah selesai dengan dirinya. Slogan-slogan ini yang disebut dalam komunikasi politik sebagai hiperbola politisi.
Lindsay Tanner (2007) dalam jargonnya menegaskan in politics everyone exaggerates about everythings all the time – dalam politik, setiap orang selalu membesar-besarkan segala hal. Menjadi pelayan publik bukan karena telah calon tertentu telah selesai dengan dirinya tetapi pemimpin yang tidak akan selesai belajar melayani masyarakatnya. Menjadi pemimpin bukan karena lebih tahu tentang kondisi masyarakat tetapi pemimpin yang hadir dengan integritas dan karakter yang telah teruji, bersama-sama dengan masyarakat membangun sebuah peradaban yang lebih baik. Jangan biarkan kemurnian koda yang tertulis jelas dibelokkan dengan aneka bentuk sound bite yang menyesatkan. Jadilah pemilih yang cerdas dengan mempercayakan koda, aspirasimu pada calon pemimpin yang setia, telah teruji karakter dan integritas sebagai pelayan rakyat.







