Yesus memang sangat berbelaskasih kepada orang-orang yang kelaparan, orang sakit dan juga orang-orang yang tidak berdaya. Tetapi bukan untuk maksud itulah Dia datang ke dunia. Ini bukan tujuan utama-Nya, melainkan Dia datang untuk menegakkan Kerajaan Allah yang bersifat rohani. Karena itu, Yesus berkata kepada setan; Ada tertulis: manusia hidup bukan dari roti saja, (dan penginjil Mateus menambahkan), tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah (bdk. Luk. 4:4; Mat. 4:4).
Godaan kedua, semua kuasa dan kemuliaan dunia akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku (lih. Luk. 4:6-7). Suatu godaan yang dipandang aneh, jika kita melihat bahwa hal ini disampaikan oleh setan kepada Yesus yang adalah penguasa dan pemilik alam semesta. Jika dilihat dari sudut pandang manusia, godaan ini berhubungan dengan kekuasaan. Dan siapakah yang tidak mau menjadi penguasa. Dalam diri manusia, ada satu kecenderungan untuk menjadi sangat terkenal dan jika mungkin menjadi penguasa, memegang satu jabatan, biar jabatan itu kecil sekalipun, yang penting ada orang lain di bawah kuasanya dan dapat diperintahnya.
Sebab itu boleh dikatakan, mustahil bagi kita manusia untuk melewatkan tawaran atau kesempatan seperti ini. Dan jika sudah menduduki suatu jabatan, sering disalah-gunakan. Jabatan tidak lagi dilihat sebagai suatu pelayanan, tetapi sebagai suatu kesempatan untuk mencari kepentingan sendiri, yang dapat menjauhkan manusia dari Tuhan dan sesama.
Di sini terletak kebohongan si setan itu. Dia menjanjikan sesuatu, – dunia dan segala isinya – yang bukan miliknya. Jabatan apa saja yang kita pegang atau dipercayakan kepada kita, sebenarnya juga bukan milik kita. Jabatan itu, kita terima dari orang lain, demi pelayanan kita kepada sesama. Jika jabatan kita dipergunakan untuk memeras atau menindas itu berarti kita ‘kena tipu’ dari si setan.







