Kesetiaan Kepada Kehendak Allah, Memerdekakan Kita

JOHN NABEN1

Yesus menolak hal ini. Dia tidak mau menjadi Mesias penguasa, karena Dia telah datang ke dalam dunia, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Sebab itu, Yesus berkata kepada setan: ‘Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dialah engkau berbakti’ (lih. Luk. 4:8).

Godaan ketiga, berhubungan dengan satu kehebatan. ‘Jika Engkau Putera Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah’ (lih. Luk. 4:9). Di sini Yesus digoda untuk terjun dari bubungan bait Allah. Menurut bayangan orang Yahudi, Mesias harus bisa dan harus hebat dalam segala-galanya, misalnya: harus melakukan satu pertunjukkan atau acrobat yang menggemparkan. Tetapi hal semacam ini, bukan menjadi kehendak Allah. Yesus mau tampil sebagai seorang Mesias atau Raja yang lemah-lembut. Bahwa hanya melalui penderitaan, salib dan kematian, manusia ditebus. Itulah rencana Allah. Maka kata Yesus kepada setan; ‘Jangan Engkau mencobai Tuhan Allahmu’ (lih. Luk. 4:12).

Kalau kita mau jujur, hidup kita manusia terdiri dari suatu rentetan kegagalan; sejak dari kegagalan manusia pertama di taman Eden, yang tidak lulus testing. Sejak itu, akal budi dan kehendak manusia telah rusak oleh dosa asal, sehingga kecenderungan kepada dosa, kadang-kadang menjadi lebih kuat dari pada kehendak Allah.

Untuk mengatasi kelemahan kita itu, pada hari ini, Yesus sendiri memberi contoh dan peneguhan untuk kita. Dan agar dapat mengatasi godaan, kita harus selalu berusaha untuk hidup dalam persatuan dengan Allah. Keakraban ini dilambangkan dengan memasuki situasi padan gurun.

Pos terkait