Kesetiaan Kepada Kehendak Allah, Memerdekakan Kita

JOHN NABEN1

Di padan gurun, tidak ada makhluk lain. Hanya diri kita sendiri. Tidak ada sesuatu pun yang menarik perhatian kita atau mengganggu ketenangan kita. Hanya ada kekosongan dan kesunyian. Dalam situasi ini, kita mencari hubungan yang khusus dan pribadi dengan Tuhan. Hidup yang berpusat pada Tuhan akan menolong kita mengatasi godaan.
Sesudah berada dalam persatuan hidup dengan Allah, Yesus hanya mau melaksanakan kehendak Allah. Yesus tidak mau mencari kepentingan sendiri, tidak mau menjadi orang yang terkenal, tidak mau menonjolkan diri sebagai penguasa dunia; yang dicari Yesus adalah hanyalah melakukan kehendak Bapa-Nya. Arah hidup-Nya ini, begitu mantap tertanam dalam hati-Nya, sehingga tidak dapat digoyahkan oleh siapa atau apa pun, termasuk setan, penguasa terbesar kejahatan.

Apakah pelaksanaan kehendak Allah, sungguh-sungguh diutamakan dalam hidup kita, sehingga kita tidak akan terpengaruh oleh godaan manapun juga?
Hidup manusia ibarat alat timbang. Bagian jasmani dan rohani harus seimbang. Mungkin dalam perjalanan hidup kita, bagian jasmani sering lebih berat, sedangkan bagian rohani tampaknya kering, seperti padang gurun. Maka masa puasa menolong kita untuk memberi bobot pada bagian rohani. Seperti kata Yesus, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah.

Dalam Mateus 17:21 berbunyi: tetapi roh jahat semacam ini, tidak dapat diusir kecuali hanya dengan berdoa dan berpuasa. Konteks teks ini muncul ketika para murid dihadapkan pada sebuah persoalan, di mana ada seorang yang kerasukan roh jahat dan para murid tidak dapat mengusir setan itu. Dan dari pernyataan Yesus itu, dapat dikatakan bahwa puasa yang adalah pengendalian diri, penguasaan diri, tahu mengarahkan diri dari kecenderungan yang membawa kita kepada dosa, merupakan sebuah ujian, sebuah test untuk melawan godaan, kapan dan di mana saja. Juga, tanpa hidup doa yang baik dan teratur diri kita akan mudah digoda oleh setan.
Yesus yang Allah telah menjelma dan turun pada tingkat manusia, menjadi sama dengan kita (anda dan saya), kecuali dalam hal dosa agar Dia sendiri memberi contoh melalui pengalaman hidup-Nya sendiri sebagai manusia.
Oleh karena itu, melalui peristiwa godaan ini, ada beberapa hal yang Yesus ingin sampaikan: pertama, Yesus mau memberikan peringatan untuk kita bahwa tak ada seorang manusia yang luput dari godaan dan tantangan. Kedua, Yesus mau memberi teladan kepada kita, bagaimana kita harus mengatasi godaan setan dalam ziarah kita sepanjang masa puasa ini. Ketiga, Yesus mau memberikan pengharapan dan hiburan, seperti yang tertulis dalam Surat Kepada Orang Ibrani: ‘Sebab, Imam Agung yang kita miliki, bukanlah Imam Agung yang tidak turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicoba, hanya tidak berbuat dosa’ (Cf. Ibr. 4:15).

Pos terkait