Membaca Pesan Bambroj dan Rosan dalam Konteks NTT Sini-Kini

gusti tetiro1

Bambroj menegaskan, Indonesia perlu melihat dengan serius salah satu ciri negara maju yang jarang disebut di negara kita: kemiskinan yang diminimalisir sedemikian rupa dan ketimpangan yang secara relatif harus manageable.

Sementara itu, Rosan menyatakan, industri manufaktur hanya bisa berjalan baik kalau didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing global. Indonesia memiliki modal kuat, yakni bonus demografi yang harus dioptimalkan. Ini keharusan, karena secara historis, tidak butuh waktu lama bagi negara yang telah tiba pada bonus demografi akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Menurut Rosan, Indonesia juga perlu terus memahami dunia, terutama hubungan China dan Amerika Serikat (AS) yang diprediksi tensinya akan berlanjut terus. Oleh karena itu, Indonesia perlu selalu mengantisipasi kondisi ini. Kondisi ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk terus menaikkan perdagangan ke AS dan China.

Indonesia, kata Rosan, perlu memperlakukan diri sebagai ‘gadis cantik’ untuk AS dan China, sambil selalu berkompetisi secara sehat dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Penguatan diplomasi menjadi keharusan.

Ketong Mo Pilih Sapa e?

Menyimak dua tokoh di atas, Bambroj dan Rosan, kita bisa menyimpulkan beberapa hal. Pertama, Indonesia memiliki peluang dan potensi menjadi negara maju. Kedua, kalau salah kelola, Indonesia bisa terjebak pada negara berpenghasilan menengah ke bawah (baca: tidak bisa mengurangi kemiskinan dan tidak mampu mempersempit ketimpangan). Ketiga, manufaktur dan proyek-proyek padat karya perlu kembali jadi prioritas. Keempat, penguatan SDM berdaya saing global menjadi keharusan.

Pos terkait