Lalu, bagaimana dengan konteks Nusa Tenggara Timur (NTT)? Tentu saja, apa yang dikatakan Bambroj dan Rosan tidak perlu di-copy-paste 100%. Kita bisa membacanya secara kreatif sesuai konteks dan kebutuhan di NTT. Saat ini, NTT sedang disibuk-sibukkan dengan masa jelang pilkada (pilgub dan pilbup). Hampir semua grup media sosial (WAG, dll) berbicara tentang politik lokal dan suksesi pilkada.
Menurut saya, persoalan ekonomi perlu menjadi prioritas perhatian para calon kepala daerah (cakada). NTT selama ini selalu dikenal sebagai daerah tertinggal, kekurangan lapangan kerja, masalah ibu dan anak, stunting, dan lain-lain. Ini tentu saja menjadi catatan negatif.
Kendati demikian, NTT memiliki modal dan potensi yang bagus di bidang SDM. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang NTT yang mengisi pos-pos penting di luar daerahnya, terutama di tanah Jawa.
Salah satu bukti bahwa SDM NTT tidak kalah saing adalah tampilnya beberapa nama yang saat ini digadang-gadang menjadi calon Gubernur NTT. Mereka datang dari berbagai latar belakang dan menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Misalnya, ada cagub dari kalangan akademisi seperti Frans Aba, dari kalangan eksekutif seperti Orias Petrus Moedak dan dari kalangan pengusaha seperti Fransiskus Go. Tiga nama ini tidak datang dari partai politik.
Sementara itu, dari kalangan politisi berpartai ada nama seperti Esthon Foenay (Gerindra) yang juga merupakan mantan Wakil Gubernur NTT, Ansy Lema (PDI Perjuangan) yang terkenal dengan tagline Nelayan-Tani-Ternak (NTT), dan Melki Laka Lena (Golkar) yang sangat fokus pada kesehatan dan ketenagakerjaan.



