Kebaikan bersama (bonum commune) tidak hanya lahir dari keseragaman ide. Ia lahir pula dari keberagaman yang saling menghormati. Buku adalah jendela menuju pemahaman yang lebih luas mesti itu datang dari keberagaman pemikiran. Menyita buku berarti menutup jendela itu dan membiarkan kita hidup dalam kegelapan berpikir.
Namun, kita perlu merenungkan kembali peringatan tajam dari John Stuart Mill: pembatasan ekspresi di ruang publik harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Ketertiban memang penting, tetapi tanpa kebebasan berpikir, demokrasi kehilangan ruhnya. Masyarakat yang dibentuk hanya atas dasar kepatuhan bukanlah masyarakat yang matang secara moral, melainkan kumpulan individu yang berjalan dalam barisan tanpa arah. Kebebasan berpikir adalah syarat utama bagi lahirnya bangsa yang kritis, beradab, dan mampu merawat kebaikan bersama. Namun tentunya tidak dilakukan secara serampangan.*
* Penulis staf pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende






