Hal-hal kecil, sederhana, biasa atau sebenarnya sewajarnya, sanggup disulap kaum toxic sebagai persoalan besar. Dan lagi, ia bakal aktif dalam kampanye ‘soal yang telah dibesar-besarkan itu.’
Benarlah!
Kaum toxic hidup dan hanya hidup dari gosip dan kabar buruk. Gemar bergeliat dalam kasak-kusuk. Tularkan bibit-bibit perseteruan. ‘Bergunjing ke sana-sini… mengibaskan suasana panas.’
Tak bakal mungkin satu dua persoalan akan dituntaskan dengan mencari solusi. Sebab, bagi kaum toxic, suasana konflik itu mesti diketahui dan dialami sekian banyak orang.
Benarlah! Siapapun kita tak luput dari beban emosional dalam alam situasi seperti ini. Perjumpaan atau kebersamaan selalu isyaratkan dua sisi suasana kontra. Ada ceriah penuh gurau, membawa dan mengusahakan perdamaian. Ada sikap dan tindakan demi saling merekatkan.
Tetapi, selalu saja ada kecenderungan di sisi sebaliknya. Ada rasa tak nyaman. Beban emosional telah jadi milik dan kisah diri. Iya, Anda mesti berhadapan dengan orang yang miliki kata-kata menusuk dan tajam lidah. Intinya, seluruh diri dan kehadirannya adalah gangguan yang mencemaskan.
Bagaimanapun, setidaknya telah dipahami suasana atau situasi yang tak kondusif demi kenyamanan dan perkembangan diri. Dan siapapun tentu mesti belajar bagaimana cara untuk menghadapi pribadi penuh eror, yang mengusik dan yang gemar ciptakan suasana tak nyaman dalam diri.
Tetapi adakah cara ‘ekstrim positif’ untuk bertarung demi ‘mengambil hati kaum eror, atau insan toxic?
Mari kita ikuti alur Iris Murdoch (1919-1999), perempuan beraura Inggris-Irlandia, pemikir dan novelis terkenal. Setiap orang miliki indra keenam untuk memandang sesamanya dalam ragam sudut pandangnya. Artinya sederhananya, bahwa seseorang itu sepantasnya dilihat dan digapai dari tilik yang utuh dan menyeluruh (integral holistik). Dan dari situlah tentu terbaca pula ‘ada sisi positifnya.’




