Mengapakah Sulit Mengalami Sisi Plus Dalam Diri Sesama? (Sebatas Satu Permenungan)

kons beo 1

Murdoch menentang cara memandang sesama terbatas pada kisah-kisah silamnya yang suram dan serba negatif. Patut dienyahkan adanya harapan semoga kaum eror, pengganggu itu alami musibah. Justru sebaliknya, yakin Murdoch, “Kita _memperhatikan_ mereka dengan harapan dan kasih. Kita harus memandang orang lain tanpa sedikit pun penghakiman.”

Memang tak mudahlah untuk masuk dalam kerangka berpikir (kepala) dan merasa (hati) a la Murdoch. Sebab betapa sulitlah untuk lepaskan cara menilai dan bersikap kita terhadap kaum eror, insan toxic itu. Keluar dari selalu berprasangka dan berpikir negatif bukanlah perkara gampangan. Lebih mudah bertahan dalam yakin ‘Biarlah yang hitam menjadi hitam, jangan harapkan jadi putih.’

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Pada titiknya, Murdock menarik siapapun untuk ‘melepaskan diri.’ Artinya “menyingkirkan ego dan meninggalkan beban emosional kita sendiri.” Kita tak lagi berkiblat mutlak dan menyembah ego sendiri, tetapi membawa pandangan dan sikap kita ke hal yang jauh lebih luas.

Nah, seketika Anda bersua dengan sesama, maka pandanglah dia dengan bola mata Kasih. Selalu dan tetap ada yang indah di dalam dirinya.
Mari kenangkan pula Oscar Wilde, penulis – penyair – dramawan Irlandia (1854-1900), dalam yakinnya yang menyentuh, “Seorang Kudus punya masa lalu, seorang pendosa miliki masa depan.”

Tentu pula, St Thomas Aquino (1225-1274) mengajarkan hal yang mulia, bahwa kita memandang seseorang tak dengan beban perkara masa lalunya, atau hanya berpijak pada hari ini dan di sini, tetapi bahwa kita memandangnya dalam pengharapan: Akan menjadi apa dan bagaimana dia nanti dalam kehendak dan penyelenggaraan Sang Pencipta, Tuhan sendiri?’

Pos terkait