Mengenang kembali percakapan Yesus dan Simon di pantai Danau Genesaret kala itu, Sri Paus tentu tidak bisa mengelak untuk secara jujur mengatakan seperti rekan se-Pausnya Simon Petrus (Paus Pertama): “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5).
Menyaksikan segala gerak langkah, ekspresi wajah serta gestur tubuh Bapa Paus sejak hari kedatangannya hingga perayaan Misa akbar di GBK sore itu, pemimpin tertinggi Gereja Katolik dunia itu adalah sosok pribadi yang sungguh sederhana, murah senyum, akrab, menyapa dan menyentuh semua orang, tidak membeda-bedakan atau memilih.
Sikap sederhana dan ketulusan yang keluar dari hatinya, menjadikan si megabintang Vatikan itu seorang pendengar sabda tapi sekaligus seorang pelaku sabda, seniman sejati, tegas dalam kata dan perbuatan. Dengan duduk di atas kursi di belakang meja altar, tanpa harus berdiri di mimbar (karena kondisi kakinya), Paus Fransiskus membagikan kesederhanaan hidup dan hatinya dalam kalimat sederhana pembuka kotbahnya: “Perjumpaan kita dengan Yesus mengundang kita untuk menghidupi dua sikap mendasar yang memampukan kita untuk menjadi murid-murid-Nya yakni mendengarkan sabda dan menghidupi sabda”.
Sebagai Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang disegani, yang selalu dinanti-nantikan di mana saja kedatangannya, sore itu di stadion GBK disoraki dengan yel-yel “Viva il Papa, Viva Papa Francesco”.
Semua orang bersorak gembira, bertepuk tangan, mengucap beribu terimakasih dengan tangisan haru kepada Bapa Paus Fransiskus. Bersama lambaian tangannya yang lembut, beliau hanya tersenyum manis menyambut semuanya. Namun suatu hal yang mungkin luput dari perhatian banyak orang adalah bahwa melalui kursi roda yang beliau gunakan serta nyanyian gempita umat.







