“Kristus jaya, Kristus mulia, Kristus, Kristus Tuhan kita”, beliau ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya yang mesti disanjung, dihormati, dimuliakan, disoraki yel-yel bukanlah dirinya melainkan Sang Gurunya sendiri: Yesus. Oleh banyaknya ikan yang ditangkap, Simon Petrus tersungkur di depan Yesus, demikianlah Paus Fransiskus, dengan kursi rodanya, dia hanyalah seorang hamba (“servus servorum Dei”), seorang pelayan yang siap mendengar dan melaksanakan apa yang menjadi perintah Yesus Tuhan.
Kotbahnya yang dia bacakan sendiri di stadion GBK hari Kamis sore itu sepertinya menghadirkan kembali mukjizat penangkapan ikan di pantai danau Genesaret dua ribuan tahun lalu. Semuanya bisa terjadi karena ada hati yang mau datang, tersungkur untuk membuka diri, menerima dan mendengarkan Dia yang adalah jalan, kebenaran dan hidup (bdk Yoh 14:6).
Dengan senyuman ceria dan lambaian lembut tangannya kepada semua yang hadir, Sri Paus Fransiskus menghidupkan kembali ajakan sang Gurunya: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (bdk Mat 11:28).
Terima kasih Yesus,
Engkau telah memilih dia,
Paus Fransiskus,
Pendengar dan Pelaku Sabda-Mu.
- Penulis, Pastor Paroki Waikomo, Lembata







