Proses menuju “kalah dan/atau menang” menghadirkan secara spesial “kondisi atau keadaan tegang” bagi semua: negara, bangsa, supporter, fans, pengurus dan perangkat kepelatihan. Porsi besar dan berat ada pada diri coach atau pelatih kepala. Jika tidak kuat mental dan jantung bisa “gugur” seketika.
Kondisi tegang dimaksud adalah keadaan fisik dan nonfisik yang dialami seorang coach/pelatih karena berada dalam tekanan mental-emosional yang tinggi. Dalam laga sepakbola selevel FIFA World Cup, ketegangan terjadi karena menghadapi tuntutan harus menang pada laga yang sedang berlangsung, didukung lagi oleh tuntutan eksternal lainnya yang sangat penting bahkan mengancam.
Beberapa aspek yang ikut terlibat di dalam kondisi tegang ini, di antaranya: aspek kognitif (pikirannya hanya fokus pada kemungkinan hasil atau mengkhawatirkan konsekwensi gagal), aspek emosional (detak jantung meningkat, otot menegang, urat leher membesar dan menonjol, wajah memerah, marah-marah atau teriak dan kehilangan ketenangan), aspek perilaku (bergerak ke sana-ke sini, unjuk kepal tangan ke tanah, ke botol minum, lebih berhati-hati bahkan menjadi sulit mengambil keputusan karena terlalu tegang, tidak tenang, bergerak linglung, mengunya terus dan teriak-teriak).
Ekspresi demikian adalah bukti “sakit” karena tegang. Sakit atau menyakitkan karena gol yang diharapkan tidak kunjung datang, ikutannya yang lebih menyakitkan harus menelan kekalahan di akhir laga. Bola itu harus masuk ke gawang lawan, tetapi tidak terjadi. Simak kondisi tegang yang dialami pelatih Korea Selatan, Hong Myung-Bo, manakala Tim yang dibesutnya “bentrok” dengan Afrika Selatan. Keadaan tegangnya berkelanjutan setelah laga, di mana diketahui dari media sosial ada petisi pemecatan pelatih. Deritanya bagai sudah jatuh tertimpah tangga lagi. Sakit memang coach ini, kalah dan harus menghadapi juga ancaman pembunuhan.






